Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kali Pertama, Investasi Energi Bersih 2023 Bakal Lampaui Minyak Fosil

Kompas.com, 4 Juni 2023, 19:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

Sedangkan penjualan kendaraan listrik diperkirakan akan melonjak sepertiga tahun ini setelah melonjak pada 2022.

Menurut IEA, berbagai faktor telah mendorong peningkata investasi energi bersih dalam beberapa tahun terakhir, termasuk periode pertumbuhan ekonomi yang kuat dan harga bahan bakar fosil yang tidak stabil yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan energi, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Peningkatan dukungan kebijakan melalui tindakan besar seperti Undang-Undang Pengurangan Inflasi AS dan inisiatif di Eropa, Jepang, China, dan di tempat lain juga berperan signifikan dalam transisi ini.

Bagaimana dengan energi berbasis fosil?

IEA memproyeksikan, pengeluaran untuk hulu minyak dan gas akan meningkat tujuh persen pada tahun 2023, atau kembali ke level tahun 2019.

Beberapa perusahaan minyak yang berinvestasi lebih banyak dari sebelum pandemi Covid-19 kebanyakan adalah perusahaan minyak nasional besar di Timur Tengah.

Baca juga: Percepatan Transisi Energi di ASEAN Perlu Libatkan Masyarakat Sipil

Banyak produsen bahan bakar fosil membuat rekor laba tahun lalu karena harga bahan bakar yang lebih tinggi, tetapi sebagian besar arus kas ini digunakan untuk pembagian dividen, pembelian kembali saham, dan pembayaran utang.

Meskipun demikian, peningkatan yang diharapkan dalam investasi bahan bakar fosil berarti akan meningkat pada tahun 2023 menjadi lebih dari dua kali lipat tingkat yang dibutuhkan pada tahun 2030 dalam Skenario Net Zero Emissions (NZE) pada 2050.

Permintaan batu bara global mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada tahun 2022, dan investasi batu bara tahun ini akan mencapai hampir enam kali lipat tingkat yang diperkirakan terjadi pada tahun 2030 dalam skenario NZE.

Pengeluaran modal industri minyak dan gas untuk alternatif rendah emisi seperti listrik bersih, bahan bakar bersih, dan teknologi penangkap karbon kurang dari lima persen dari pengeluaran hulu pada tahun 2022.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Energi Panas Bumi

Angka ini sedikit berubah dari tahun lalu, meskipun porsinya lebih tinggi untuk beberapa perusahaan Eropa yang lebih besar.

Kekurangan terbesar dalam investasi energi bersih berada di negara berkembang. Ada beberapa titik terang, seperti investasi dinamis dalam tenaga surya di India dan energi terbarukan di Brasil dan sebagian Timur Tengah.

Namun, investasi di banyak negara terhambat oleh faktor-faktor termasuk suku bunga yang lebih tinggi, kerangka kebijakan dan desain pasar yang tidak jelas, infrastruktur jaringan yang lemah, utilitas keuangan yang terbatas, dan biaya modal yang tinggi.

"Masih banyak yang harus dilakukan oleh komunitas internasional, terutama untuk mendorong investasi di negara-negara berpenghasilan rendah, di mana sektor swasta enggan untuk berinvestasi," tulis IEA.

Untuk membantu mengatasi hal ini, IEA dan IFC pada tanggal 22 Juni 2023 akan merilis laporan khusus baru tentang Meningkatkan Pembiayaan Swasta untuk Energi Bersih di Negara Berkembang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
LSM/Figur
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
LSM/Figur
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau