Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Gizi Buruk pada Anak, Cegah Stunting Sebelum Terlambat

Kompas.com, 18 September 2023, 18:00 WIB
Nirwana Hafizh,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Masih banyak anak-anak Indonesia yang mengalami gizi buruk hingga berujung stunting.

Menurut laporan dari World Food Programme pada 2009, sekitar 22,9 juta orang di Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka dan 30,8 persen anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting.

Sebagai informasi, stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Baca juga: Turunkan Stunting, APPBI DKI Jakarta Donasikan Rp 100 Juta ke Dompet Dhuafa

Stunting pada anak dapat ditandai dengan tinggi badan anak lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO)

Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 27,7 persen, yang berarti sekitar satu dari empat balita atau total lebih dari 8 juta anak di Indonesia mengalami stunting.

Namun, seiring berjalannya waktu, Indonesia berhasil menurunkan angka prevalensi stunting. Pada 2021, SSGI mencatat angka prevalensi stunting ada di angka 24,4 persen dan pada 2022 menjadi 21,6 persen.

Baca juga: Kejar Prevalensi Stunting 14 Persen, Protein Energy Ratio Penting Diperhatikan

Meski data yang tercatat terus membaik, bukan berarti orangtua dapat lengah dari bahaya stunting. Peran orangtua sangat penting untuk mencegah anak-anak terkena stunting. Berikut lima hal yang perlu dilakukan orangtua sebagai pencegahan stunting pada anak.

1. Cukupi asupan gizi

Salah satu langkah awal yang krusial adalah memastikan bahwa asupan gizi anak sudah optimal sejak awal kehamilan hingga usia 2 tahun.

Ingat, langkah ini mesti dimulai sebelum anak lahir, yakni sejak pembuahan sel telur. Selama masa ini, Ibu hamil perlu mengkonsumsi makanan yang seimbang dan kaya gizi untuk mendukung pertumbuhan janin dengan baik.

2. Aturan pemberian MPASI

Setelah lahir, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif adalah kunci dalam memberikan nutrisi yang optimal pada bayi.

Baca juga: Begini Cara Pemberian ASI untuk Mencegah Stunting pada Bayi BBLR

Kemudian, bayi juga perlu diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Adapun usia pemberian MPASI yang dianjurkan WHO adalah enam bulan. Meski demikian, orang tua sebaiknya mengonsultasikan usia MPASI bayi pada dokter untuk mendapatkan panduan tepat sesuai dengan perkembangan anak.

3. Beri makanan beragam

Untuk memberikan berbagai nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan anak, kenalkan anak Anda pada berbagai jenis makanan, termasuk sayuran dan buah-buahan yang kaya akan vitamin dan mineral. Ini akan membangun fondasi kuat untuk kesehatan anak.

4. Hindari makanan dengan gula berlebihan

Saat anak masih dalam usia pertumbuhan, orangtua sebaiknya membatasi asupan gula pada anak. Maka, hindari camilan dan minuman manis agar asupan gula yang masuk dalam tubuh anak tidak berlebihan.

Baca juga: Pentingnya Asupan Nutrisi Lengkap untuk Cegah Stunting dan Tingkatkan Daya Saing SDM Indonesia

Adapun gula biasanya terdapat pada makanan seperti permen, minuman manis, dan makanan cepat saji, Mengkonsumsinya secara berlebihan bisa mendatangkan risiko obesitas, bahkan stunting, pada anak.

 5. Buat jadwal

Membentuk kebiasaan makan yang teratur pada anak sangat penting. Pastikan anak Anda memiliki jadwal makan yang seimbang, dengan porsi yang cukup sesuai dengan usianya.

Hindari makan terlalu cepat atau terlalu lambat, serta pastikan anak mendapatkan makanan yang cukup dalam sehari.

Peran orangtua adalah kunci dalam mencegah stunting pada anak-anak. Dengan melakukan beberapa cara di atas, Anda dapat membantu menghindari stunting pada anak dan otomatis mengupayakan penurunan stunting di Indonesia. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata
Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata
LSM/Figur
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Pemerintah
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
LSM/Figur
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau