Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Petrokimia Gresik Tanam 2.000 Bibit Mangrove dan Bersih-Bersih Pantai

Kompas.com, 6 Desember 2023, 08:00 WIB
Add on Google
Hamzah Arfah,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

GRESIK, KOMPAS.com - Melalui program 'Envirocamp', jajaran PT Petrokimia Gresik perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, melaksanakan kegiatan bersih-bersih pantai dan menanam 2.000 bibit mangrove di Pusat Restorasi dan Penanaman Mangrove (PRPM) Mengare di Desa Tanjungwidoro, Kecamatan Bungah, Gresik, Jawa Timur.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo menyampaikan, kegiatan yang baru dilaksanakan beberapa waktu lalu tersebut menjadi cara perusahaan dalam memperingati 'Hari Menanam Pohon Indonesia 2023.'

Selain itu juga wujud komitmen perusahaan menjalankan kesepakatan pengelolaan lingkungan, yang sudah ditandatangani bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pada September 2023.

Baca juga: Rehabilitasi Kawasan Pesisir Utara, MRT Jakarta Tanam 200.000 Mangrove hingga 2030

"Pengendalian kerusakan lingkungan membutuhkan peran aktif dari seluruh pihak, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Untuk itu, sebagai upaya perusahaan melestarikan lingkungan tidak hanya melibatkan masyarakat, tapi juga karyawan," ujar Dwi Satriyo, melalui keterangan tertulis, Selasa (5/12/2023).

Melalui program ini, karyawan diajak kemping dan mengikuti kegiatan bersih-bersih pantai, serta menanam mangrove untuk menumbuhkan employee green behaviour.

Dwi Satriyo menambahkan, penanaman mangrove yang dilakukan, melengkapi program tanam mangrove yang sudah dilakukan perusahaan sepanjang tahun 2023.

Pada momen peringatan HUT ke-51 Petrokimia Gresik beberapa waktu lalu, juga telah melakukan penanaman 5.100 bibit mangrove di Kali Lamong, Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Gresik.

Dwi Satriyo menambahkan, sebagai upaya untuk rehabilitasi hutan mangrove, kontribusi Petrokimia Gresik ini diharapkan mampu menjadi langkah kecil untuk mendukung program rehabilitasi hutan mangrove.

"Sebagaimana yang telah menjadi target pemerintah Indonesia merecovery hutan mangrove seluas 600.000 Hektare yang telah tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 120 tahun 2020," ucap Dwi Satriyo.

Salah seorang peserta Envirocamp, Agus Satriono mengapresiasi kegiatan tersebut, karena mampu membangun komunikasi yang baik antara karyawan, perusahaan dan masyarakat Tanjungwidoro dalam melestarikan lingkungan. Karena dalam kegiatan ini, juga melibatkan masyarakat lokal.

"Kita bersama-sama melakukan rehabilitasi pesisir di Desa Tanjungwidoro, yang selama ini sudah menjadi tempat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik," tutur Agus.

Selain di PRPM Mengare dan Kali Lamong, Petrokimia Gresik juga berkontribusi dalam pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah, hingga mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI kategori 'Private Sector/Perusahaan' tahun 2021.

"Kami berharap, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja, tapi bisa terus berlanjut untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat serta dapat menunjang kehidupan bumi yang berkelanjutan," tuntas Dwi Satriyo.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
Swasta
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Pemerintah
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Pemerintah
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
LSM/Figur
Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?
Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?
LSM/Figur
Studi Terbaru: Kondisi Thailand Berpotensi Seterik Gurun Sahara pada 2070
Studi Terbaru: Kondisi Thailand Berpotensi Seterik Gurun Sahara pada 2070
Pemerintah
Parlemen India Disorot Usai Tolak Usulan Tambah Keterwakilan Perempuan
Parlemen India Disorot Usai Tolak Usulan Tambah Keterwakilan Perempuan
Pemerintah
KemenPU: Orang Indonesia Malas Pilah Sampah Sekaligus Ingin Bayar Murah
KemenPU: Orang Indonesia Malas Pilah Sampah Sekaligus Ingin Bayar Murah
Pemerintah
Terlalu Fokus Kurangi Emisi Berisiko Ancam Biodiversitas, Kok Bisa?
Terlalu Fokus Kurangi Emisi Berisiko Ancam Biodiversitas, Kok Bisa?
LSM/Figur
Reforestasi dengan Agroforestri, Alumni Kanisius Tanam 2.200 Pohon di Bogor
Reforestasi dengan Agroforestri, Alumni Kanisius Tanam 2.200 Pohon di Bogor
Swasta
Benarkah Industri Tas Tanggulangin Merosot Gara-gara Lumpur Lapindo?
Benarkah Industri Tas Tanggulangin Merosot Gara-gara Lumpur Lapindo?
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau