Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Karbon "Urban Farming" 6 Kali Lipat Lebih Besar dari Pertanian Konvensional

Kompas.com, 10 Februari 2024, 11:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

Namun, meskipun sebagian besar urban farming menunjukkan jejak karbon yang lebih tinggi, terdapat variasi yang sangat besar dalam sampel.

Faktanya, di sejumlah kecil lokasi urban farming—17 dari 73 lahan—jejak karbon jauh lebih rendah dibandingkan lahan pertanian konvensional.

Para peneliti juga memperhatikan bahwa dalam beberapa kasus, pengurangan jejak karbon ini sejalan dengan tanaman tertentu.

Misalnya, tomat yang ditanam di udara terbuka jauh lebih berkelanjutan, dibandingkan dengan tanaman dari pertanian konvensional yang sering kali ditanam di rumah kaca yang sumber dayanya intensif dan diangkut dalam jangka waktu lama.

Saran dari peneliti

Adapun dari beberapa temuan tersebut, Hawes menyebut ini tidak berarti bahwa urban farming harus diabaikan. 

Sebaliknya, Hawes menyebut para peneliti dapat menyarankan beberapa praktik baik yang dapat mengubah urban farming menjadi kekuatan untuk kebaikan iklim.

Baca juga: Cara HK Bantu Masalah Lingkungan, Gelar Urban Habitsphere di Kampung Proklim

Pertama, para petani dapat mengatasi sumber emisi karbon terbesar yang berasal dari infrastruktur. Caranya dengan perbaikan kondisi kepemilikan lahan, sehingga petani perkotaan tidak diusir dari lahannya dan terpaksa pindah, yang merupakan hal lazim urban farming di kota-kota besar di seluruh dunia.

Sebab, data statistik menunjukkan bahwa lahan sayuran yang hanya bertahan selama lima tahun memiliki jejak karbon empat kali lebih tinggi dibandingkan lahan yang dibiarkan selama 20 tahun.

“Selain memperpanjang umur pertanian dan kebun perkotaan, kami mencatat bahwa petani pangan dapat menghemat karbon dengan menggunakan bahan-bahan reklamasi untuk membangun infrastruktur mereka,” kata Hawes.

Kemudian, pemilihan tanaman yang cerdas adalah cara lain untuk menurunkan emisi karbon pada urban farming.

Selain itu, studi tersebut juga menyarankan mendaur ulang sampah perkotaan menjadi kompos, sebagai cara lain untuk mengimbangi biaya karbon.

Intinya, kata Hawes, urban farming mempunyai potensi menjadi lebih ramah lingkungan jika dilakukan dengan tepat.

Urban farming memiliki banyak manfaat bagi kota dan masyarakat yang berpartisipasi di dalamnya. Namun kita harus memahami dinamika karbonnya dan bagaimana merancang produksi pangan perkotaan yang lebih hemat karbon," pungkas dia.

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau