Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Provinsi dengan Prevalensi Stunting Terendah

Kompas.com, 13 Mei 2024, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting bayi di bawah lima tahun (balita) secara nasional pada 2023 mencapai 21,5 persen.

Prevalensi stunting di Indonesia pada 2023 hanya turun sebesar 0,1 persen bila dibandingkan2022.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting nasional pada 2022 adalah 21,6 persen.

Baca juga: Digitalisasi Bantu Desa Atasi Stunting hingga Mitigasi Bencana

Dari 38 provinsi di Indonesia, Bali menjadi provinsi dengan prevalensi stunting terendah yaitu 7,2 persen.

Disusul Jambi dengan prevalensi stunting 13,5 persen dan Riau dengan prevalensi stunting 13,6 persen.

Berikut 10 provinsi dengan prevalensi stunting terendah menurut SKI 2023.

  1. Bali: 7,2 persen
  2. Jambi: 13,5 persen
  3. Riau: 13,6 persen
  4. Lampung: 14,9 persen
  5. Kepulauan Riau: 16,8 persen
  6. Kalimantan Utara: 17,4 persen
  7. DKI Jakarta: 17,6 persen
  8. Jawa Timur: 17,7 persen
  9. DI Yogyakarta: 18,0 persen
  10. Sumatera Utara: 18,9 persen

Meski demikian, dari data di atas baru ada tiga provinsi yang memiliki prevalensi stunting di bawah target nasional 14 persen.

Baca juga: Baru 3 Provinsi Punya Prevalensi Stunting di Bawah 14 Persen

Untuk diketahui, rencana pemerintah menargetkan prevalensi stunting di bawah 14 persen pada 2024 tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Itu artinya, masih ada 35 provinsi yang memiliki prevalensi stunting balita di atas 14 persen.

Selain itu, Dari 38 provinsi di Indonesia, lebih dari setengahnya atau tepatnya 23 provinsi memiliki prevalensi stunting di atas rata-rata nasional.

Dengan kata lain, ada 15 provinsi yang memiliki prevalensi stunting di bawah angka nasional atau 21,5 persen.

Capaian tersebut menurun bila dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam SSGI 2022, ada 18 provinsi yang memiliki prevalensi stunting di atas rata-rata nasional tahun 2022 yaitu 21,6 persen.

Baca juga: Perubahan Iklim Berkaitan Erat dengan Kasus Stunting

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau