BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan APRIL Asia Group

Langkah Kecil Berdampak Besar dengan Pakai Kemasan Berkelanjutan

Kompas.com, 31 Mei 2024, 21:19 WIB
Yogarta Awawa Prabaning Arka,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menyelamatkan bumi dari ancaman kerusakan lingkungan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan menggunakan kemasan produk yang ramah lingkungan dan mudah didaur ulang.

Seperti diketahui, penggunaan kemasan sudah menjadi keniscayaan dalam kehidupan masyarakat modern, mulai dari produk makanan, obat-obatan, hingga kecantikan. Terlebih, dengan kemudahan berbelanja secara online.

Sejatinya, peningkatan penggunaan kemasan juga harus diimbangi dengan kesadaran konsumen untuk menggunakan kemasan berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Penelitian Straits Research menyebut, permintaan kemasan berkelanjutan bertumbuh 7 persen setiap tahun. Hal ini membuktikan bahwa konsumen semakin selektif dalam memilih kemasan produk.

Baca juga: APRIL Group Terjun ke Bisnis Kemasan Berkelanjutan, Salah Satu Investasi Terbesar di Sumatra dalam Satu Dekade

Salah satu jenis kemasan berkelanjutan yang paling sering digunakan adalah produk berbasis kertas, seperti paperboard.

Untuk diketahui, paperboard merupakan kertas tebal yang menjadi bahan dasar berbagai kemasan, seperti kotak lipat dan gelas kertas. Bahan ini umumnya digunakan untuk kotak makanan beli bawa pulang (take away) dan wadah kopi.

Paperboard juga kerap digunakan sebagai bungkus pengiriman berbagai jenis barang, seperti kosmetik, alat kebersihan, serta elektronik.

Salah satu keunggulan paperboard adalah berpotensi didaur ulang sehingga ramah lingkungan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut, kapasitas daur ulang kertas di Indonesia mencapai 56 persen dari total produksi kertas nasional. Hal ini membuat kertas menjadi kontributor daur ulang terbesar ketimbang material kemasan lain.

Paperboard terbuat dari hasil pengelolaan hutan yang lestari. Dengan bahan dasar berbasis bio, material ini bersifat mudah terurai (biodegradable), dapat diperbarui (renewable), dan didaur ulang (recyclable).

Baca juga: Dukung Agenda FOLU Net Sink Indonesia 2030, Upaya APRIL Group untuk Capai NZE

Selain tingkat daur ulang tinggi, sustainable paper hanya membutuhkan waktu antara dua sampai enam minggu untuk terurai secara alami. Hal ini membuat paperboard menjadi bahan yang baik untuk mendukung keberlanjutan.

Selain itu, penggunaan sustainable paper sebagai pilihan kemasan juga dapat berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin 12, yakni Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production).

World Bank memprediksi, limbah sampah akan meningkat hingga 3,4 miliar ton pada 2050. Oleh karena itu, konsumen memiliki peran penting untuk menangkal ancaman ini dengan melakukan konsumsi secara bertanggung jawab.

Kemasan berkelanjutan, seperti paperboard, diproduksi secara bertanggung jawab dengan meminimalisasi dampak negatif bagi lingkungan dan membantu mengurangi emisi. Produksi kemasan yang lebih bersih dan efisien dapat membantu mengurangi limbah industri.

Baca juga: Menengok Kontribusi APRIL Group, 30 Tahun Salurkan Kebutuhan Pulp dan Kertas Dunia

Penggunaan sustainable paper juga berkontribusi pada poin SDG 13, yakni Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action). Produksi kemasan berkelanjutan berpengaruh terhadap produksi emisi karbon yang lebih kecil.

Menurut penelitian dalam jurnal Carbohydrate Polymers, produk berbahan serat selulosa seperti paperboard memproduksi dampak iklim sebesar 1,5 CO2 eq/kg, sedangkan plastik memproduksi 3-5 kg CO2 eq/kg.

Sementara itu, menurut World Resources Institute, sektor kemasan menyumbang sekitar 5 persen dari total emisi gas rumah kaca global. Penggunaan kemasan berkelanjutan dapat menurunkan angka ini secara signifikan.

Produsen kertas kemasan berkelanjutan di Indonesia

Baru-baru ini, APRIL Group menghadirkan produk baru kertas kemasan berkelanjutan guna memenuhi kebutuhan konsumen. Inisiatif ini sekaligus sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menyediakan produk kemasan yang mendukung berkelanjutan.

Seperti diketahui, APRIL Group dikenal sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Asia. Salah satu produk flagship perusahaan ini adalah PaperOne yang telah terjual hingga ke 110 negara.

Pabrik April Group.DOK. April Group. Pabrik April Group.

APRIL Group memiliki unit bisnis baru, PT Riau Andalan Paperboard International (RAPI), yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Provinsi Riau. Melalui unit bisnis ini, APRIL memulai commissioning produksi kertas kemasan berkelanjutan (paperboard) dengan merk BoardOne dan Silverpak pada awal 2024.

Kertas kemasan BoardOne diproduksi dari hutan yang dikelola secara lestari dan telah tersertifikasi oleh Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC). Proses produksi brand ini mendukung poin SDGs dalam proses produksi yang bertanggung jawab.

Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper Sihol Aritonang mengatakan, RAPI sebagai unit operasional APRIL Group diharapkan dapat mendorong konsumen menggunakan kemasan berkelanjutan.

“Diversifikasi produk tersebut memperkuat komitmen kami untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan,” kata Sihol dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (30/5/2024).

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi
AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi
BUMN
Diam Bisa Jadi Strategi, Ini Cara PR Tanggapi Isu dan Cegah Krisis di Media Sosial
Diam Bisa Jadi Strategi, Ini Cara PR Tanggapi Isu dan Cegah Krisis di Media Sosial
LSM/Figur
Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya
Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya
LSM/Figur
PFOS Zat Kimia Abadi Ditemukan pada Lebah dan Madu, Apa Dampaknya pada Manusia?
PFOS Zat Kimia Abadi Ditemukan pada Lebah dan Madu, Apa Dampaknya pada Manusia?
LSM/Figur
Krisis Iklim dan Keringat Bikin Warna Lukisan Michelangelo di Vatikan Memudar
Krisis Iklim dan Keringat Bikin Warna Lukisan Michelangelo di Vatikan Memudar
LSM/Figur
Mangrove di Teluk Benoa Bali Disebut Mati Massal
Mangrove di Teluk Benoa Bali Disebut Mati Massal
LSM/Figur
1 Miliar Orang Khawatir Kehilangan Tanah dan Rumah Menurut Laporan PBB
1 Miliar Orang Khawatir Kehilangan Tanah dan Rumah Menurut Laporan PBB
Pemerintah
Tak Semua Harus Diganti, Ini Cara Service Hub Batam Milik Schneider Optimalkan Aset
Tak Semua Harus Diganti, Ini Cara Service Hub Batam Milik Schneider Optimalkan Aset
Swasta
Milenial Jadi Pengguna AI Paling Efektif 2025, Mengapa?
Milenial Jadi Pengguna AI Paling Efektif 2025, Mengapa?
Swasta
Paparan CO2 Meningkat, Studi Ungkap Dampaknya pada Darah Anak dan Remaja
Paparan CO2 Meningkat, Studi Ungkap Dampaknya pada Darah Anak dan Remaja
LSM/Figur
Tumpahan Minyak Kapal Cemari Pantai di Phuket Thailand, Pariwisata Terancam
Tumpahan Minyak Kapal Cemari Pantai di Phuket Thailand, Pariwisata Terancam
LSM/Figur
Craftsmanship dan Sustainability, Strategi Filoposy Bertahan di Industri Fesyen
Craftsmanship dan Sustainability, Strategi Filoposy Bertahan di Industri Fesyen
Swasta
Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?
Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?
LSM/Figur
Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan
Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan
LSM/Figur
Ruang Jelajah Gajah dan Harimau di TN Bukit Tigapuluh Jambi Makin Sempit
Ruang Jelajah Gajah dan Harimau di TN Bukit Tigapuluh Jambi Makin Sempit
Pemerintah
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau