Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 6 Juni 2024, 18:00 WIB
Add on Google
Sigiranus Marutho Bere,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

"Setelah tercapai kesepakatan dan damai, tim survei mulai melakukan kegiatan penentuan titik lokasi," kata Dhani.

Selama kegiatan survei berlangsung, tim menyewa rumah warga setempat.

Setelah sekian lama mencari, akhirnya ditetapkan satu lokasi strategis di Desa Buraen. Lokasi tanah yang akhirnya menjadi home base untuk area alusista radar, perkantoran, komplek perumahan dan helipad, saat ini telah menjadi hak pakai dan secara resmi telah disertifikasi sebagai aset tanah milik TNI AU (Kementerian Pertahanan RI).

Lokasi tanah tersebut terletak pada tiga tempat yang terdiri dari area tanah untuk gelar alusista radar, perkantoran dan mess dengan luas tanah 14.980 meter persegi, kemudian untuk komplek perumahan dan fasilitas pelengkapnya dengan luas tanah 17.525 meter persegi serta lokasi untuk helipad dan area evakuasi cepat jalur udara, dengan luas tanah 12.690 meter persegi.

"Tim bekerja hingga selesai pekerjaan instalasi dan dimulainya operasi radar hingga memiliki komplek perumahan sendiri dan diresmikan pada Oktober 2003," sebut Dhani.

Setelah alutsista radar berserta peralatan pendukung operasi terinstalasi di Buraen, dimulailah kegiatan operasional radar, mulai dari uji coba fungsi masing-masing alat, sampai dengan uji kemampuan operasionalnya.

Dhani menuturkan, awal pengoperasian alusista radar di Buraen, masih diawaki oleh personel dari Satuan Radar 251 yang berkedudukan di Madiun secara bergantian atau aplosan.

Pergantian personel operasi dilakukan secara teratur tiap tiga bulan sekali. Masa aplosan personel berlangsung pada periode Oktober 1999 hingga November 2002.

Setelah semua sarana dan prasarana satuan telah siap dihuni, maka dilaksanakan operasi boyong satuan ke Buraen.

Pemberangkatan operasi boyong satuan ke Buraen, dilaksanakan dalam dua gelombang, menggunakan pesawat C-130 Hercules, yakni pada 14 Oktober 2003 dengan misi pergeseran personel Satuan Radar 251 dan keluarga, serta pada 15 Oktober 2003, dengan misi pergeseran peralatan perkantoran dan kendaraan dinas.

Dia menjelaskan, ketika Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) yang sekarang berganti nama menjadi Komando Operasional Udara Nasional (Koopsudnas) mengembangkan sektor pertahanan ke wilayah Indonesia bagian timur, maka kekuatan alusista radar juga harus ditambah.

Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) IV yang berkedudukan di Biak terbentuk, maka Satuan Radar 251 pun dipindahkan komando dan kendali operasinya dari Kosekhanudnas II bergabung dengan Kosekhanudnas IV.

Dengan demikian, terhitung mulai 15 Oktober 2003 terjadi perubahan nama menjadi Satuan Radar 241 Buraen, bersama-sama Satuan Radar 242 Tanjung Warani, untuk memperkuat alusista Kosekhanudnas IV.

Satuan Radar 241 Buraen mengawasi wilayah udara bagian selatan, sedangkan Satuan Radar 242 Tanjung Warari mengawasi wilayah udara bagian utara.

Sejak bertambahnya kekuatan alusista radar di jajaran Kosekhanudnas IV, dengan tambahan radar baru, seperti Satuan Radar 243 Timika, 244 Merauke dan 245 Saumlaki, maka komando dan kendali Satuan Radar 241 dikembalikan ke jajaran Kosekhanudnas II Makasar, sehingga berubah nama menjadi Satuan Radar 226 Buraen.

Kantor Saturn radar 226 BuraenKOMPAS.com/Sigiranus Marutho Bere Kantor Saturn radar 226 Buraen
Kondisi Satuan Radar 226 Buraen Saat ini

Sejak dibentuk pada tahun 1999, Satuan Radar 226 Buraen telah berganti 13 orang komandan. Semuanya bertugas dengan baik dan lancar.

"Saya adalah komandan yang ke-13," kata Dhani, yang baru bertugas di Satuan Radar Buraen, sejak bulan April 2023.

Dhani menyebut, jumlah personel termasuk dirinya yang sekarang bertugas sebanyak 50 orang. Jumlah itu dari segi kuantitas sudah sesuai dengan daftar susunan personel saat ini.

Kondisi geografi area Radar Buraen lanjut Dhani, sepintas mirip Satuan Radar 221 Ngliyep, Malang, Jawa Timur. Jarak dari pusat kota ke radar pun jauh.

Waktu tempuh dari pusat kota ke radar antara 1,5 sampai 2 jam perjalanan, jika menggunakan mobil.

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok, seminggu sekali turun ke kota untuk berbelanja.

"Kebetulan saya dulu tugas di Malang, jadi tahu persis letak geografinya. Hanya yang berbeda, di Malang jumlah penduduknya lebih padat. Sedangkan di sini lebih sepi," kata Dhani.

Tak Mengenal Tanggal Merah

Dhani menjelaskan, satuan radar berbeda dengan satuan TNI AU lainnya, karena tugasnya lebih spesifik mengawasi dan menjaga wilayah udara dalam kurun waktu 24 jam.

"Kasarnya bisa dibilang tidak mengenal tanggal merah. Hari raya pun tetap beroperasi juga," sebutnya.

Karena itu, semua personel termasuk perwira, berbagi waktu dalam bekerja.

Kondisi tersebut, lantaran adanya tuntutan kebutuhan operasional guna menjamin stabilitas keamanan dan mewaspadai potensi ancaman keamanan yang menggunakan media udara serta pelanggaran penerbangan.

Kohanudnas kata Dhani, menambah jam operasi beberapa satuan radar Hanud TNI AU untuk melaksanakan operasi 24 jam, termasuk Satuan Radar 226 Buraen.

Perintah operasi ini mulai berlaku sejak 9 Februari 2017 hingga sekarang.

Beban tugas negara yang berat, tentunya menjadi konsekwensi semua personel dalam mengemban tugas negara sebagai mata Indonesia di langit perbatasan dengan Timor Leste dan Australia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau