Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Panas Picu Peningkatan Penyakit yang Ditularkan Nyamuk

Kompas.com, 29 Agustus 2024, 20:40 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim membuat cuaca menjadi semakin panas dan basah. Kombinasi kondisi tersebut ternyata juga berdampak pada hal lain: peningkatan penyakit yang ditularkan nyamuk.

Nyamuk berkembang biak ketika ada banyak air di sekitar untuk bertelur dan suhu hangat membantu keturunannya tumbuh subur.

Serangga itu sendiri sebenarnya tidak menjadi masalah. Yang jadi problem adalah virus, bakteri, dan parasit yang mereka bawa.

Mengutip Science News, Kamis (29/8/2024) 2024 sendiri merupakan rekor tahun dengan kasus demam berdarah yang terparah.

Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Benua Amerika, dengan lebih dari 10 juta kasus yang terdokumentasi hingga 21 Agustus 2024.

Jumlah tersebut kira-kira 94 persen dari 11,5 juta kasus yang tercatat di seluruh dunia.

Baca juga: 466 Juta Anak Terancam Panas Ekstrem karena Perubahan Iklim

Kasus-kasus di Benua Amerika sendiri juga lebih dari dua kali lipat rekor global sebelumnya yaitu 5,3 juta kasus pada tahun 2023 lalu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, perubahan iklim, El Niño, urbanisasi, dan jumlah orang yang rentan terhadap virus tersebut mungkin berperan dalam wabah besar tersebut.

Misalnya, El Niño menyebabkan hujan lebat di beberapa bagian dunia dan kekeringan di bagian lain.

Bahkan kekeringan dapat menimbulkan risiko karena A. aegypti adalah nyamuk perkotaan yang tidak memiliki masalah dalam bertelur di wadah yang menyimpan air di sekitar rumah.

Dan kota-kota yang padat berarti lebih banyak orang di sekitar yang dapat digigit dan menularkan.

Penularan dari Nyamuk yang Makin Umum

Peningkatan suhu juga telah meningkatkan penularan demam berdarah sekitar 18 persen di Amerika dan Asia, dibandingkan ketika dunia tanpa pemanasan.

Penularan penyakit dari nyamuk ini juga dapat meningkat lebih banyak lagi pada tahun 2050, menjadi 40 hingga 57 persen lebih tinggi secara rata-rata daripada tanpa perubahan iklim.

Baca juga: DBD Masih Jadi PR di Indonesia, Nyamuk Dengue Perlu Dikendalikan

Peneliti memperkirakan bahwa virus yang ditularkan nyamuk lainnya seperti West Nile dan chikungunya juga akan lebih umum terjadi seiring dengan perubahan iklim.

Patogen lain seperti penyakit parasit malaria juga dapat memengaruhi lebih banyak orang saat suhu menghangat.

Kutu, di sisi lain, hidup lebih lama daripada nyamuk, sehingga mereka kurang rentan terhadap perubahan cuaca jangka pendek seperti hujan lebat atau gelombang panas.

Namun, musim dingin yang menghangat membantu lebih banyak larva kutu bertahan hidup hingga musim semi yang berarti populasi yang lebih besar untuk menyebarkan penyakit.

Contohnya Kutu rusa (Ixodes scapularis), yang dapat membawa bakteri penyebab penyakit Lyme, perlahan-lahan memperluas jangkauannya ke utara sehingga menempatkan lebih banyak orang pada risiko terpapar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau