Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 28 Oktober 2024, 13:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Populernya skema carbon offset atau penebusan emisi yang dilakukan oleh perusahaan bakal memperlambat cita-cita dunia untuk mencapai pengurangan emisi yang sesungguhnya.

Seruan tersebut mengemuka dalam pernyataan dan sumpah yang ditandatangani oleh lebih dari 60 ilmuwan iklim ternama dalam Real Zero Pledge yang diorganisasi oleh Lethal Humidity Global Council.

Beberapa ilmuwan terkemuka yang menandatangani sumpah tersebut antara lain Profesor Michael Mann dari University of Pennsylvania, Profesor Johan Rockstrom dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, dan Bill Hare dari Climate Analytics.

Baca juga: UNEP: Emisi Karbon Naik Lebih Cepat di Tahun 2023

Menurut sumpah dan penyataan tersebut, skema carbon offset yang dilakukan perusahaan-perusahaan tidak efektif sekaligus menghambat transisi energi.

"Definisi net zero telah bergeser dari awalnya yang secara substansial mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, menjadi terus membakar bahan bakar fosil namun mengeklaim bisa 'mengimbangi' emisi," bunyi pernyataan dari sumpah tersebut.

Mereka menyatakan, kini satu-satunya jalan yang dapat mencegah krisis iklim lebih lanjut adalah real zero, bukan net zero.

Lethal Humidity Global Council menyatakan, pemahamaan mengenai net zero saat ini telah mengabaikan bukti ilmiah yang jelas.

Baca juga: Ekspansi Hilirisasi Nikel 4 Perusahaan Naikkan Emisi RI 38,5 Juta Ton

Emisi karbon dari bahan bakar fosil dalam skala besar lalu menebusnya dengan berbagai upaya penyerapan karbon bertentangan dengan bukti ilmiah.

"Selain itu, penebusan berdasarkan penyerap karbon alami tidak memperhitungkan bahwa penyerap ini sudah melemah karena perubahan iklim dan, paling banter, hanya bersifat sementara," tulis pernyataan tersebut.

Berdasarkan tingkat emisi saat ini, umat manusia harus berhenti membakar bahan bakar fosil pada 2030 agar memiliki peluang membatasi suhu Bumi naik 1,5 derajat celsius.

"Oleh karena itu, kami mengimbau kepada para pelaku bisnis dan pemerintah untuk segera mengadopsi target real zero. Dan menerbitkan rencana yang transparan tentang bagaimana mereka akan menghilangkan bahan bakar fosil, jauh sebelum tahun 2040," tulis pernyataan itu.

Baca juga: Demi Efisiensi Energi dan Tekan Emisi Karbon, Lippo Malls Indonesia Lakukan Audit Energi Berkala

Tidak mengurangi emisi

Dilansir dari The Guardian, Minggu (27/10/2024), sumpah tersebut mencerminkan kekhawatiran dari para ilmuwan bahwa sejumlah besar upaya carbon offset atau penebusan emisi dari berbagai proyek terkait hutan atau dari penghindaran pembukaan lahan mungkin tidak benar-benar mengurangi emisi.

"Kita harus fokus pada pengurangan emisi yang nyata, daripada terlibat dalam permainan hitung-hitungan," kata Hare.

Profesor Katrin Meissner dari Climate Change Research Centre University of New South Wales mengatakan, banyak program penebusan emisi yang berfokus pada penanaman pohon atau membiarkan area tumbuh kembali.

Kenyataannya, program-program ini tidak dapat mengunci karbon selamanya. Karena ketika pohon mati, karbon akan kembali lepas ke atmosfer.

"Ketergantungan pada penebusan emisi tanpa pengurangan emisi yang diperlukan berbahaya dan merugikan," katanya.

Profesor Sarah Perkins-Kirkpatrick dari Australian National University menuturkan, net zero adalah solusi sementara karena tidak memperbaiki masalah pada sumbernya.

Baca juga: Perlu Perhitungan Karbon Terpadu untuk Capai Nol Emisi Karbon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Pemerintah
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
BUMN
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Pemerintah
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Pemerintah
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
LSM/Figur
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau