Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

COP16 Riyadh Berakhir Tanpa Kesepakatan Protokol Kekeringan

Kompas.com, 16 Desember 2024, 11:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Konvensi PBB Melawan Penggurunan (UNCCD) di Riyadh, Arab Saudi berakhir dengan jalan buntu dan tanpa kesepakatan protokol kekeringan.

Para negosiator dari 196 negara ditambah Uni Eropa gagal mencapai protokol tersebut dalam KTT yang dimulai sejak 2 Desember dan berakhir molor satu hari hingga Sabtu (14/12/2024).

Sebelum perundingan berakhir, Sekretaris Eksekutif UNCCD Ibrahim Thiaw menekankan, dunia berharap para negosiator dapat mengadopsi keputusan berani.

Baca juga: COP16 Riyadh: Masyarakat Adat Desak Pengakuan hingga Pembiayaan Langsung

"Yang dapat membantu membalikkan keadaan pada bencana lingkungan yang paling meluas dan paling berdampak yakni kekeringan," kata Thiaw, sebagaimana dilansir AFP.

Namun, saat berpidato di sesi pleno terakhir, Thiaw mengakui bahwa para negosiator membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyetujui cara terbaik ke depan.

Dalam siaran pers para pihak peratifikasi UNCCD ingin melanjutkan pembahasan mengenai kekeringan dalam COP17 di Mongolia tahun 2026.

Perundingan Riyadh dilakukan setelah kegagalan sebagian perundingan COP16 Konvensi PBB Keanekaragaman Hayati (CBD) di Kolombia, kegagalan mencapai kesepakatan polusi plastik di Korea Selatan, dan kesepakatan keuangan iklim dalam COP29 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Baku, Azerbaijan.

Baca juga: Para Pemuda Gaungkan Pertanian Berkelanjutan dalam COP16 Riyadh

Direktur Eksekutif International Institute for Environment and Development Tom Mitchell mengatakan, hasil-hasil dari perundingan tersebut menggarisbawahi adanya tantangan dalam negosiasi global.

"Lebih dari sebelumnya, lanskap geopolitik yang terpecah-pecah terbukti menjadi batu sandungan bagi proses COP dan beberapa suara mulai disingkirkan. Masalah-masalah ini muncul pada saat krisis yang ingin diatasi oleh pertemuan puncak ini menjadi semakin mendesak," kata Mitchell.

Kekeringan

Dalam laporan PBB sebelumnya, kekeringan yang dipicu oleh kerusakan lingkungan oleh manusia merugikan dunia lebih dari 300 miliar dollar AS.

Kekeringan diproyeksikan akan mempengaruhi 75 persen populasi dunia pada tahun 2050.

Baca juga: COP16 Riyadh: Perusahaan Didesak Perkuat Investasi Kesehatan Lahan

Seorang delegasi di COP16 dari sebuah negara di Afrika mengatakan kepada AFP, negara-negara di "Benua Hitam" berharap perundingan tersebut akan menghasilkan protokol yang mengikat mengenai kekeringan.

"Ini pertama kalinya saya melihat Afrika begitu bersatu, dengan front persatuan yang kuat, sehubungan dengan protokol kekeringan," kata delegasi tersebut yang enggan disebutkan namanya.

Dua peserta COP16 lainnya, yang juga meminta anonimitas, mengatakan kepada AFP bahwa negara-negara maju tidak menginginkan protokol yang mengikat.

Kelompok adat juga menginginkan sebuah protokol, kata Praveena Sridhar dari Save Soil, sebuah kampanye global yang didukung oleh badan-badan PBB.

Baca juga: COP16 Riyadh: Kesehatan Tanah Jadi Cermin Kualitas Makanan

Pasalnya, protokol tersebut akan memungkinkan pemantauan, sistem peringatan dini, dan rencana respons yang lebih baik.

"Namun, tidak adanya protokol dari COP16 tidak boleh menunda kemajuan," kata Sridhar.

Sebelum COP16 Riyadh digelar, UNCCD mengatakan 1,5 miliar hektar lahan harus dipulihkan pada akhir dekade ini dan setidaknya diperlukan investasi global senilai 2,6 triliun dollar AS.

Pada pekan pertama COP16, janji pendanaan senilai 12 miliar dollar AS telah diutarakan untuk berbagai upaya mengatasi kekeringan, pemulihan lahan, dan penanggulangan degradasi.

Dari angka tersebut, forum negara-negara kawasan Arab atau Arab Coordination Group menjadi pihak yang paling besar menggelontorkan dana dengan nilai 10 miliar dollar AS.

Baca juga: COP16 Riyadh Hasilkan Janji Rp 191 Triliun Atasi Kekeringan dan Degradasi Lahan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Krisis Energi, Indonesia Bisa 'Tanam' BBM demi Ketahanan Nasional
Krisis Energi, Indonesia Bisa "Tanam" BBM demi Ketahanan Nasional
Pemerintah
Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
LSM/Figur
Sektor Ritel Pangan di Asia Dinilai Minim Komitmen Tekan Emisi Metana
Sektor Ritel Pangan di Asia Dinilai Minim Komitmen Tekan Emisi Metana
LSM/Figur
Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Pemerintah
Panas Ekstrem Bisa Ganggu Aktivitas Sehari-hari Manusia
Panas Ekstrem Bisa Ganggu Aktivitas Sehari-hari Manusia
LSM/Figur
Diskon dari China Dicabut, Harga Panel Surya di Afrika Terancam Naik
Diskon dari China Dicabut, Harga Panel Surya di Afrika Terancam Naik
Pemerintah
Ketika Perang Memanaskan Bumi
Ketika Perang Memanaskan Bumi
Pemerintah
Pemanasan Global 2 Derajat Celsius Bisa Lebih Berbahaya dari Perkiraan
Pemanasan Global 2 Derajat Celsius Bisa Lebih Berbahaya dari Perkiraan
LSM/Figur
Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
LSM/Figur
Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
LSM/Figur
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
Pemerintah
Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai
Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai
Pemerintah
Karhutla Indonesia 2025 Capai 359.000 Hektar, Ini 7 Provinsi yang Rawan
Karhutla Indonesia 2025 Capai 359.000 Hektar, Ini 7 Provinsi yang Rawan
Pemerintah
Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng
Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau