Menurut data Handbook Of Energy & Economic Statistics of Indonesia (HEESI) 2024 yang dirilis Kementerian ESDM, jumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 2013 kapasitas terpasang PLTU batu bara tercatat 23.812 megawatt (MW). Pada 2020, kapasitas terpasang PLTU batu bara naik dua kali lipat menjadi 49.756 MW.
Konsumsi batu bara untuk kebutuhan energi juga meningkat selama 10 tahun terakhir.
Dari 42 juta setara barel minyak pada 2013 melonjak tujuh kali lipat pada 2023 menjadi 316 juta setara barel minyak. Bila dikonversikan, konsumsi batu bara untuk energi sepanjang tahun lalu sekitar 66 juta ton untuk energi.
Baca juga: Bandara Heathrow SIapkan 86 Juta Poundsterling untuk Transisi ke Avtur Berkelanjutan
Kendati pun demikian, pemerintah masih berencana menurunkan target bauran EBT melalui revisi PP KEN.
Dalam draf RPP KEN yang baru, bauran EBT ditarget turun menjadi antara 17 sampai 19 persen pada 2025.
Dalam peta jalan transisi energi RPP KEN tersebut, bauran EBT ditargetkan 19-21 persen pada 2030.
Lalu pada 2030 sekitar 25-26 persen, kemudian pada 2040 ditargetkan mencapai 38-41 persen, hingga pada 2060 mendatang sebesar 70-72 persen.
Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhy menyampaikan, bahkan dengan penurunan target EBT pun, dia tidak yakin dapat tercapai.
Menurut Fahmy, ada berbagai kontradiksi yang disampaikan oleh pemerintah. Di satu sisi menargetkan bauran EBT, namun di sisi lain juga mendorong produksi energi fosil.
"Ini menandakan pemerintah masih akan terus meningkatkan produksi bahan bakar fosil," ujar Fahmy kepada Kompas.com.
Baca juga: RI Gabung BRICS, Saatnya Negara Berkembang Atur Sendiri Agenda Transisi Energi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya