Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Bisa Ciptakan 170 Juta Pekerjaan, tetapi Dampak Baiknya Tak Merata

Kompas.com, 31 Januari 2025, 16:44 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - World Economic Forum (WEF) dalam laporannya "Future of Jobs Report 2025" memperkirakan, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi akan memicu transformasi tenaga kerja paling signifikan sejak revolusi industri.

Pada tahun 2030, AI dan teknologi pemrosesan informasi lainnya akan mengubah 86 persen bisnis yang akan memicu terciptanya 170 juta pekerjaan baru sekaligus menggantikan 92 juta pekerjaan.

Temuan didapat berdasarkan survei yang mencakup 1.000 perusahaan di 22 industri dan 55 negara, yang secara keseluruhan mempekerjakan lebih dari 14 juta orang.

Hal itu jadi peringatan soal perlunya peningkatan ketrampilan untuk mempersiapkan tenaga kerja dalam menghadapi masa depan yang digerakkan oleh AI.

Minat Global Terhadap AI

Sejak OpenAI memperkenalkan ChatGPT pada November 2022, investasi pada AI generatif (Gen AI) telah melonjak, mendekati hampir delapan kali lipat dari angka awal.

"Saat kita memasuki tahun 2025, lanskap pekerjaan terus berkembang dengan cepat. Terobosan transformasional, khususnya dalam Gen AI, sedang membentuk kembali industri dan tugas di semua sektor," kata Saadia Zahidi, Managing Director di WEF seperti dikutip Sustainability Magazine pada Jumat (31/1/2025).

Baca juga: Korporasi Targetkan Ulang Sasaran Iklim karena AI

Dorongan finansial itu tidak hanya mendukung pengembangan perangkat lunak tetapi juga infrastruktur fisik yang diperlukan, seperti server dan pembangkit listrik.

Tidak mengherankan, industri teknologi berada di garis depan dalam mengadopsi AI, sedangkan sektor-sektor seperti konstruksi tertinggal.

Negara-negara maju dan berpenghasilan menengah menunjukkan adopsi AI generatif yang luas, sementara wilayah berpenghasilan rendah menunjukkan keterlibatan yang minimal.

Studi tempat kerja mencerminkan pula bahwa Gen AI secara signifikan meningkatkan kemampuan manusia, terutama bagi karyawan yang lebih baru.

Gen AI sendiri memungkinkan pekerja yang kurang terspesialisasi untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya diperuntukkan bagi para ahli, meningkatkan produktivitas di antara peran-peran seperti perawat dan asisten pengajar.

Lebih lanjut, WEF mengidentifikasi kesenjangan ketrampilan sebagai hambatan utama bagi transformasi perusahaan terhadap AI dan teknologi.

Sebanyak 70 persen perusahaan yang disurvei berencana untuk merekrut personel baru dengan ketrampilan yang dibutuhkan. Sementara 85 persen memprioritaskan peningkatan ketrampilan internal.

Peran yang mendukung transisi hijau seperti insinyur energi terbarukan termasuk di antara ketrampilan pekerja yang disebut akan mengalami pertumbuhan cepat.

Sementara itu, pekerjaan garis depan tradisional seperti pekerja di sektor pertanian, personel konstruksi, dan peran perawatan juga diprediksi akan berkembang secara signifikan.

Baca juga: Bagaimana AI Membantu Manajer ESG Mendorong Keberlanjutan?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
Pemerintah
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Pemerintah
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Pemerintah
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Swasta
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Swasta
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Pemerintah
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
LSM/Figur
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Swasta
FAO: Perluasan Lahan Pertanian Tidak Lagi Memungkinkan
FAO: Perluasan Lahan Pertanian Tidak Lagi Memungkinkan
Pemerintah
Banjir Sumatera Disebabkan Kerusakan Hutan, Anggota DPR Ini Minta HGU Ditiadakan
Banjir Sumatera Disebabkan Kerusakan Hutan, Anggota DPR Ini Minta HGU Ditiadakan
Pemerintah
Pupuk Indonesia: Jangan Pertentangkan antara Pupuk Organik dan Kimia
Pupuk Indonesia: Jangan Pertentangkan antara Pupuk Organik dan Kimia
BUMN
PLN Kelebihan Pasokan, Proyek WtE Dikhawatirkan Hanya Bakar Uang
PLN Kelebihan Pasokan, Proyek WtE Dikhawatirkan Hanya Bakar Uang
LSM/Figur
Ekonomi Hijau Diprediksi Capai 7 Triliun Dolar AS per Tahun pada 2030
Ekonomi Hijau Diprediksi Capai 7 Triliun Dolar AS per Tahun pada 2030
Pemerintah
Skema Return dan Reuse Disebut Bisa Kurangi Polusi Plastik dalam 15 Tahun
Skema Return dan Reuse Disebut Bisa Kurangi Polusi Plastik dalam 15 Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau