Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laut 70 Persen Bumi, Tapi Dana untuk Pelestariannya Cuma 1 Persen

Kompas.com, 10 Maret 2025, 20:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD) mengungkapkan keberadaan lautan sangat penting bagi semua kehidupan di dunia karena menopang keanekaragaman hayati, mengatur iklim, dan menghasilkan oksigen.

Tak hanya itu saja, laut juga memiliki potensi ekonomi besar yang mampu memberikan ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong perdagangan global.

Sayangnya, potensi besar laut tersebut menghadapi berbagai ancaman mulai dari tata kelola yang buruk, kurangnya investasi, hingga perubahan iklim.

Hal itu termasuk lautan yang sudah memanas, naiknya permukaan air laut, dan bahaya cuaca ekstrem yang membahayakan ekosistem laut, populasi ikan, infrastruktur pesisir, dan rute pelayaran, khususnya bagi masyarakat pesisir.

Selain dampak terkait iklim, kurangnya dana untuk pelestarian laut dan praktik-praktik yang merugikan semakin mengancam lautan dunia.

Baca juga: Survei Sebut Literasi Anak Muda tentang Laut Kurang

“Meskipun lautan mewakili 70 persen biosfer, kurang dari satu persen bantuan pembangunan global diinvestasikan untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutannya,” ungkap David Vivas, Kepala Perdagangan, Lingkungan, dan Cabang Pembangunan Berkelanjutan UNCTAD di sela-sela Forum Kelautan PBB ke-5 di Jenewa.

Setidaknya butuh 175 miliar dollar AS setiap tahun untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-14, yakni melindungi kehidupan di bawah air.

Namun hanya 4 miliar dollar AS yang disumbangkan dari tiap negara, filantropis, dan investasi swasta, menjadikan laut sebagai SDG yang paling kurang didanai.

Investasi laut kontras dengan industri perikanan global yang mendapat subsidi 22 miliar dollar AS, di mana investasi tersebut malah merugikan karena berkontribusi terhadap penangkapan ikan yang berlebihan.

“Bagian planet yang sangat besar ini sama sekali tidak terlihat dalam hal konservasi penggunaan berkelanjutan untuk generasi mendatang,” terang Vivas dikutip dari laman resmi United Nations, Senin (10/3/2025).

Kendala lebih lanjut yang membatasi potensi ekonomi kelautan juga melibatkan tarif yang sangat tinggi di antara negara-negara berkembang.

Negara-negara berpenghasilan tinggi menerapkan tarif 3,2 persen pada produk ikan sementara negara-negara berkembang rata-rata menerapkan tarif 14 persen di antara mereka sendiri, yang sangat membatasi perdagangan.

Potensi Laut

Ekonomi laut dunia sendiri telah tumbuh 250 persen sejak tahun, 1995 jauh melampaui ekonomi global yang tumbuh sebesar 190 persen selama periode yang sama.

Baca juga: Mikroplastik Jadi Tantangan Serius di Laut, Bisa Ancam Manusia

"Jumlah ekspor barang dan jasa laut tumbuh sangat cepat, mencapai 2,2 triliun dollar AS pada 2023," kata Vivas.

Salah satu yang mendongkrak pertumbuhan tersebut adalah meningkatnya ekspor ikan sebesar 43 persen. Sementara itu, ekspor ikan olahan meningkat sebesar 89 persen dari tahun 2021 hingga 2023.

Tak heran jika saat ini diperkirakan 600 juta orang bergantung pada industri perikanan yang sebagian besar berasal dari negara-negara berkembang.

Potensi laut tidak berhenti sampai situ saja.

Menurut UNCTAD, dua pertiga spesies yang hidup di lautan belum teridentifikasi sehingga menawarkan potensi untuk penemuan antibiotik baru, makanan rendah karbon, dan bahan berbasis bio seperti pengganti plastik.

Potensi tersebut menyebut menyediakan peluang pasar sebesar 10,8 miliar dollar AS. Dan diperkirakan, pasar bioteknologi kelautan akan tumbuh lebih dari 50 persen pada tahun ini.

Untuk menyelesaikan problem tersebut UNCTAD merekomendasikan integrasi sektor-sektor berbasis laut ke dalam rencana iklim dan keanekaragaman hayati nasional, mengurangi hambatan perdagangan, memperluas pengumpulan data tentang emisi, perdagangan, investasi yang terkait dengan laut, mengakhiri subsidi yang merugikan, serta menuntaskan perjanjian yang mengikat secara hukum tentang polusi plastik.

UNCTAD dan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (DESA) juga akan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan inovasi data untuk mendukung negara-negara kepulauan kecil Karibia yang sedang berkembang.

Baca juga: “Climate Change” Ubah Siklus Nutrisi Laut yang Penting untuk Ekosistem

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau