Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Ekstrem Pengaruhi Produksi Susu, Peternak Kecil Kena Imbasnya

Kompas.com, 21 Maret 2025, 19:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian yang dilakukan University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat, menemukan panas ekstrem ternyata dapat memengaruhi produksi susu.

Menurut studi mereka, suhu panas dan kelembaban tinggi menyebabkan penurunan 1 persen produksi susu tahunan.

Peternakan kecil lebih terdampak daripada peternakan besar karena mereka mungkin dapat mengurangi imbas panas ekstrem melalui strategi manajemen.

"Sapi adalah mamalia seperti kita dan mereka mengalami stres akibat panas seperti yang kita alami," kata Marin Skidmore, rekan penulis studi dari University of Illinois Urbana-Champaign.

Menurutnya, ketika sapi terpapar panas ekstrem, hal itu dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti ada peningkatan risiko infeksi, kegelisahan, dan penurunan nafsu makan yang menyebabkan penurunan produksi susu juga.

Bagi produsen susu, hal tersebut tentu berdampak langsung pada pendapatan mereka.

Baca juga: Panas Ekstrem Kurangi Kemampuan Laut Serap CO2

Mengutip Phys, Kamis (20/3/2025), hasil studi ini berdasarkan pada analisis data produksi susu dari sembilan negara bagian Midwest, AS.

Peneliti menggunakan lebih dari 56 juta catatan produksi susu dari 18.000 peternakan sapi perah dari tahun 2012 hingga 2016.

Mereka menyesuaikan data susu untuk kandungan protein dan lemak guna memperkirakan kualitas susu secara lebih akurat yang menentukan harga.

Para peneliti selanjutnya menggabungkan data produksi yang disesuaikan kualitasnya dengan data cuaca harian untuk suhu dan kelembaban.

Mereka kemudian menghitung pengukuran indeks suhu-kelembaban yang paling akurat mencerminkan stres panas yang dialami sapi, karena panas dan kelembapan yang tinggi membuat sapi lebih sulit untuk mendinginkan diri melalui keringat.

Mereka menemukan bahwa, rata-rata, 1 persen dari produksi susu tahunan hilang akibat stres panas.

Berdasarkan harga susu rata-rata, ini setara dengan sekitar 245 juta dollar AS yang hilang.

Lebih lanjut, stres panas secara tidak proporsional memengaruhi peternakan yang lebih kecil. Peternakan dengan jumlah sapi kurang dari 100 sapi kehilangan rata-rata 1,6 persen dari hasil tahunan.

Produsen sebenarnya dapat menerapkan berbagai bentuk strategi mitigasi, seperti sisi kandang terbuka, kipas angin, dan alat penyiram.

Sayangnya, ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh peternakan yang lebih besar. Akan tetapi itu pun juga tidak mungkin untuk sepenuhnya melindungi dari tekanan panas.

Baca juga: 48,6 Juta Penduduk Indonesia Terpapar Panas Ekstrem, Dampak Perubahan Iklim Makin Nyata

"Tingkat intensitas panas yang lebih rendah berpotensi dapat dikelola dengan beberapa praktik yang tersedia. Pada tingkat tersebut, peternakan terbesar tidak benar-benar mengalami kerugian yang nyata, dan di situlah kita mulai melihat perbedaan antara peternakan kecil dan besar. Namun, ada tingkat tekanan panas yang sangat panas dan lembab sehingga Anda tidak dapat sepenuhnya mengelolanya," jelas Skidmore.

Para peneliti juga memproyeksikan potensi kerugian hingga tahun 2050, menggunakan prediksi rata-rata dari 22 model iklim yang berbeda.

Dalam sebagian besar skenario, hari-hari dengan suhu panas ekstrem diprediksi akan lebih sering terjadi, dan kerugian produksi susu diperkirakan akan meningkat sekitar 30 persen pada tahun 2050.

Jika pembuat kebijakan menganggap produksi susu sebagai prioritas, peternakan kecil akan memerlukan dukungan yang lebih besar agar tetap kompetitif di masa mendatang.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Food Policy.

Baca juga: Lestari Awards 2025: UMKM dan Korporasi Bersatu untuk Keberlanjutan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau