Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dengan mengebor 8,2 miliar ton selama lima tahun atau lebih dari 1,8 miliar ton setahun, masih saja ada yang bilang eksplorasi batu bara di Tanah Air masih rendah. Sungguh absurd.
Ketiga, permintaan global atas batu bara masih tinggi dengan China dan India berkejar-kejaran melahap komoditas ini untuk industri mereka.
Di luar pujian kepada China dalam perlombaan memanfaatkan energi terbarukan, khususnya energi surya dan energi angin, 70 persen listrik di negeri Xi Jinping itu dipasok oleh PLTU yang melahap batu bara global, termasuk Indonesia.
Namun begitu, ada kabar buruk (tapi kabar baik untuk kelompok pro-iklim dan energi bersih) untuk negara penghasil batu bara: China berjanji, tahun ini emisi karbon mereka akan mencapai puncaknya.
Selanjutnya negeri separuh sosialis dan setengah kapitalis itu bakal mengurangi konsumsi batu bara mulai 2026 mendatang.
Negeri adidaya itu punya misi menggenjot kapasitas listrik dari energi surya dan energi angin hingga 1,2 miliar kilowatt (1,2 gigawatt/GW).
Pada 2023 saja, konsumsi listrik China naik 6,7 persen. Tak heran jika penggunaan listrik di sana melesat jadi 9,22 triliun kilowatt-jam (kWh).
Volume listrik dari energi surya dan energi angin yang hendak dicapai oleh China, memang secuil dari kebutuhan mereka. Namun, dalam transisi ke energi bersih, China tak lagi menempuh jalan setapak. Negeri itu telah melangkah di jalan besar.
Jika permintaan dari China menurun, pasar batu bara Indonesia juga kempis. Namun harus dicamkan dunia sedang bergerak meninggalkan batu bara meskipun secara bertahap.
Ini tak dapat ditolak sebab semelimpah apa pun cadangan yang dimiliki, pada akhirnya energi fosil itu akan habis.
Dalam skenario konsumsi batu bara China berkurang drastis, jalan gasifikasi seolah benar agar komoditas itu termanfaatkan.
Namun, sebelum lupa dan abai, mari cermati lagi peringatan Institue for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) tahun 2020 silam.
Waktu itu lembaga ini mengingatkan, gasifikasi batu bara yang dikerjakan PT Bukit Asam Tbk dan APCI, secara ekonomi tidak masuk akal. Proyek itu ditaksir bikin tekor negara hingga 377 juta dolar AS atau Rp 5,43 triliun per tahun.
Kalau secara ekonomi tidak layak, mengapa Danantara akan berinvestasi di proyek gasifikasi batu bara yang diprediksi bakal boncos itu?
Kelahiran sovereign wealth fund (SWF) yang merupakan superholding BUMN itu telah menerbitkan kontroversi serta sentimen negatif dari publik. Saya kira masuk ke program gasifikasi batu bara hanya akan menjadi kampanye negatif buat Danantara.
Lebih baik jika Danantara berinvestasi di sektor energi terbarukan. Sebab negeri khatulistiwa ini baru memanfaatkan 0,3 persen dari potensi energi terbarukan yang dimilikinya.
Bauran energi baru dan terbarukan juga kepentok di level 12,5 persen. Sementara Indonesia jalan merangkak, Vietnam telah berlari dalam perlombaan transisi ke energi terbarukan--sebagian karena dilecut oleh reformasi "Doi Moi" tahun 1986.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya