Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Kembangkan Material Beton Ramah Lingkungan untuk Infrastruktur Pesisir

Kompas.com, 7 Mei 2025, 19:17 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Semen Indonesia (Persero) atau SIG mengembangkan material beton ramah lingkungan, untuk membangun infrastruktur di kawasan pesisir.

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, mengungkapkan pengembangan beton hijau bertujuan untuk efisiensi energi, menurunkan emisi, dan mempertahankan kualitasnya.

“Kami optimistis hasil kerja sama ini akan menjadi kontribusi signifikan terhadap pencapaian target net zero emission Indonesia,” kata Cuk Supriyadi dalam keterangannya, Rabu (7/5/2025).

Dia menilai bahwa kerja sama ini penting lantaran riset dilakukan berdasarkan kebutuhan mitra industri.

Baca juga: Rumah Tamadun, Sulap Limbah Sawit Jadi Produk Ramah Lingkungan

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Teguh Muttaqie, menjelaskan pengembangan beton ramah lingkungan difokuskan pada pemanfaatan material alternatif non konvensional dan limbah industri seperti slag nikel.

Komposisi beton yang dihasilkan dirancang untuk infrastruktur pelabuhan, tanggul, maupun kawasan pesisir dan lau lainnya.

“Kami akan mengembangkan formulasi baru dalam komposisi beton yang tidak hanya rendah karbon, tetapi juga mendukung prinsip circular economy dengan memanfaatkan limbah industri sebagai bahan campuran," ujar Teguh.

"Beton hijau ini akan menjadi bentuk nyata kontribusi BRIN terhadap pembangunan rendah emisi di sektor infrastruktur,” imbuh dia.

Baca juga: Langkah Hijau, LEGO Resmikan Pabrik Ramah Lingkungan di Vietnam

Direktur Utama PT SIG, Donny Arsal, menyampaikan kerja sama dengan BRIN merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menghadirkan inovasi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi di pasar yang semakin kompetitif. Industri semen, menurut Donny, tidak lagi cukup bertumpu pada produk konvensional.

“Kami telah menurunkan emisi produksi hingga 38 persen, dari 800 kilogram menjadi 500-an kg CO2 per ton. Melalui kolaborasi ini, kami berkomitmen menjaga tren tersebut agar terus berlanjut,” sebut Donny.

Pihaknya turut menekankan inovasi ini merupakan bagian dari peta jalan perusahaan, guna menciptakan solusi konstruksi berkelanjutan.

Produk beton hijau diharapkan dapat diadopsi oleh berbagai pihak, untuk menjawab tantangan urbanisasi, perubahan iklim, ataupun risiko geografis Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau