Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Dilema Pemuda Desa: Tak Punya Tanah, Bingung Masa Depan

Kompas.com, 28 Mei 2025, 12:36 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kaum perempuan muda biasanya dijemput bus perusahaan dari desa pukul 6 pagi, menempuh perjalanan selama lebih dari satu jam menuju pabrik. Sebagai buruh, mereka mulai bekerja mengolah udang dari pukul 8 pagi sampai 5 sore. Kadang-kadang, mereka bisa lembur sampai pukul 10 malam. Meski pekerjaan ini terbilang stabil, para buruh tidak punya kontrak formal, sehingga posisi mereka sangat rentan.

“Sebenarnya saya ingin kerja di supermarket, tapi cuma lulusan SMA yang bisa masuk. Kalau tidak sekolah tinggi seperti saya, ya cuma bisa jadi buruh di KIMA (kawasan industri Makassar),” ujar salah seorang perempuan pekerja pabrik pengolahan udang.

Bolak-balik merantau

Banyak juga orang muda pedesaan Maros yang memilih merantau demi menggapai harapan hidup mereka. Kadang, mereka pindah sementara ke kota atau ke luar negeri untuk bekerja, lalu kembali lagi ke kampung, dan pergi lagi, begitu seterusnya.

Perempuan muda umumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi dan Malaysia, atau pulang-pergi ke pabrik-pabrik di kawasan industri Makassar. Sementara laki-laki kebanyakan bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit, proyek pembukaan lahan, konstruksi, atau proyek transportasi di Sulawesi Selatan, Papua, Kalimantan, hingga Malaysia.

Baca juga: Loh Sumber Buktikan Desa Tambang Bisa Jadi Lumbung Pangan

Ada juga yang merantau lebih dekat, seperti ke kota Maros atau Makassar, untuk bekerja kasar, menjadi sopir atau montir. Selain bekerja, ada juga kaum muda Maros yang merantau untuk melanjutkan sekolah dan kuliah.

Menjadi wirausaha

Banyak orang muda juga yang mencoba peruntungan membuka usaha sendiri atau wirausaha, misalnya membuka bengkel kecil-kecilan, kedai pakaian, jualan ‘online’, atau mengembangkan wisata desa.

“Meskipun cuma usaha kecil, kalau kita bosnya, itu namanya orang sukses,” ujar seorang wirausahawan muda desa.

Merancang masa depan

Anak-anak muda pedesaan di Indonesia bukan pemalas atau enggan sekolah tinggi, tetapi kondisi sosial dan ekonomi sering membatasi pilihan mereka. Misalnya, mereka menghadapi masalah dengan akses terhadap lahan atau keterbatasan biaya untuk kuliah.

Namun, di tengah berbagai keterbatasan, mereka terus menyalakan harapan dan beradaptasi dengan realita.

Mereka tidak pasif. Kaum muda di Maros menunjukkan mereka berusaha mengejar masa depan yang lebih baik—entah itu dengan merantau atau berwirausaha.

Harapan orang muda desa di Sulawesi Selatan menyampaikan satu pelajaran penting: pembangunan desa tidak cukup hanya berupa infrastruktur. Kita perlu memahami bagaimana orang muda memaknai masa depan dan mendukung pilihan mereka—termasuk bagi yang memilih ingin tetap tinggal di desa.

Mungkin Indonesia bisa mendorong kaum muda untuk kembali atau tetap tinggal di daerah pedesaan sebagai bagian dari kebijakan revitalisasi pedesaan. Bersamaan dengan itu, pemerintah tentu juga harus meningkatkan pendidikan, kesempatan kerja, dan layanan sosial di daerah pedesaan agar lebih menarik bagi kaum muda.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau