Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Kaum perempuan muda biasanya dijemput bus perusahaan dari desa pukul 6 pagi, menempuh perjalanan selama lebih dari satu jam menuju pabrik. Sebagai buruh, mereka mulai bekerja mengolah udang dari pukul 8 pagi sampai 5 sore. Kadang-kadang, mereka bisa lembur sampai pukul 10 malam. Meski pekerjaan ini terbilang stabil, para buruh tidak punya kontrak formal, sehingga posisi mereka sangat rentan.
“Sebenarnya saya ingin kerja di supermarket, tapi cuma lulusan SMA yang bisa masuk. Kalau tidak sekolah tinggi seperti saya, ya cuma bisa jadi buruh di KIMA (kawasan industri Makassar),” ujar salah seorang perempuan pekerja pabrik pengolahan udang.
Bolak-balik merantau
Banyak juga orang muda pedesaan Maros yang memilih merantau demi menggapai harapan hidup mereka. Kadang, mereka pindah sementara ke kota atau ke luar negeri untuk bekerja, lalu kembali lagi ke kampung, dan pergi lagi, begitu seterusnya.
Perempuan muda umumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi dan Malaysia, atau pulang-pergi ke pabrik-pabrik di kawasan industri Makassar. Sementara laki-laki kebanyakan bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit, proyek pembukaan lahan, konstruksi, atau proyek transportasi di Sulawesi Selatan, Papua, Kalimantan, hingga Malaysia.
Baca juga: Loh Sumber Buktikan Desa Tambang Bisa Jadi Lumbung Pangan
Ada juga yang merantau lebih dekat, seperti ke kota Maros atau Makassar, untuk bekerja kasar, menjadi sopir atau montir. Selain bekerja, ada juga kaum muda Maros yang merantau untuk melanjutkan sekolah dan kuliah.
Menjadi wirausaha
Banyak orang muda juga yang mencoba peruntungan membuka usaha sendiri atau wirausaha, misalnya membuka bengkel kecil-kecilan, kedai pakaian, jualan ‘online’, atau mengembangkan wisata desa.
“Meskipun cuma usaha kecil, kalau kita bosnya, itu namanya orang sukses,” ujar seorang wirausahawan muda desa.
Merancang masa depan
Anak-anak muda pedesaan di Indonesia bukan pemalas atau enggan sekolah tinggi, tetapi kondisi sosial dan ekonomi sering membatasi pilihan mereka. Misalnya, mereka menghadapi masalah dengan akses terhadap lahan atau keterbatasan biaya untuk kuliah.
Namun, di tengah berbagai keterbatasan, mereka terus menyalakan harapan dan beradaptasi dengan realita.
Mereka tidak pasif. Kaum muda di Maros menunjukkan mereka berusaha mengejar masa depan yang lebih baik—entah itu dengan merantau atau berwirausaha.
Harapan orang muda desa di Sulawesi Selatan menyampaikan satu pelajaran penting: pembangunan desa tidak cukup hanya berupa infrastruktur. Kita perlu memahami bagaimana orang muda memaknai masa depan dan mendukung pilihan mereka—termasuk bagi yang memilih ingin tetap tinggal di desa.
Mungkin Indonesia bisa mendorong kaum muda untuk kembali atau tetap tinggal di daerah pedesaan sebagai bagian dari kebijakan revitalisasi pedesaan. Bersamaan dengan itu, pemerintah tentu juga harus meningkatkan pendidikan, kesempatan kerja, dan layanan sosial di daerah pedesaan agar lebih menarik bagi kaum muda.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya