Meski SAF didukung secara luas oleh industri penerbangan, terutama untuk penerbangan jarak jauh, pemanfaatan bahan bakar ini masih menjadi perdebatan.
Ada dua masalah utama yang mendasari perdebatan itu.
Pasar belum sepenuhnya siap menerima SAF dalam jumlah besar, dan ada keraguan yang berkembang apakah SAF, seperti yang diproduksi saat ini, benar-benar seefektif itu dalam memerangi perubahan iklim.
Kontroversi SAF bukan hanya tentang apakah bahan bakar tersebut berkelanjutan tetapi juga tentang seluruh rantai pasok dan dampak lingkungan yang lebih luas dari bahan baku dan proses produksinya.
Beberapa SAF dapat dibuat dari tanaman. Kekhawatiran muncul bila lahan pertanian yang seharusnya digunakan untuk menanam makanan dialihkan untuk menanam tanaman energi untuk bahan bakar.
Deforestasi melepaskan sejumlah besar karbon yang tersimpan di pohon dan tanah yang dapat menghancurkan keanekaragaman hayati.
Ini menciptakan tantangan signifikan bagi upaya dekarbonisasi penerbangan dan mendorong perlunya solusi yang lebih efisien dan benar-benar berkelanjutan.
Baca juga: BRIN: Angka Cetane Bahan Bakar dari Limbah Plastik Lebih Tinggi dari Pertamina Dex
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya