Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Terlalu Cepat, Hutan Pun Sulit Beradaptasi

Kompas.com, 8 Juli 2025, 19:30 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian dari Universitas Oxford di Inggris mengungkapkan bahwa hutan mengalami kesulitan beradaptasi 'berlomba' melawan perubahan iklim.

Menurut studi yang dipublikasikan di Science ini, populasi pohon memerlukan waktu berabad-abad untuk beradaptasi dan itu terlalu lambat untuk mengimbangi laju pemanasan global yang begitu cepat saat ini.

Melansir laman resmi Universitas Oxford, Jumat (4/7/2025), peneliti menjelaskan, sebelum perubahan iklim yang pesat dalam satu abad terakhir, populasi pohon telah beradaptasi dengan periode yang lebih dingin dan lebih hangat selama ribuan tahun.

Misalnya saja, saat Zaman Es, populasi pohon di Belahan Bumi Utara bermigrasi ke selatan yang lebih hangat. Sementara saat iklim menghangat, spesies pohon beradaptasi dengan bermigrasi ke utara menuju kondisi yang lebih sesuai.

Namun perubahan iklim saat ini terjadi lebih cepat daripada kemampuan banyak hutan untuk beradaptasi dan berkembang. Pohon dewasa yang berumur panjang dan populasinya pun tak bisa bermigrasi dengan cepat.

Baca juga: Kemenhut: Hutan Adat Indonesia Seluas 332.505 Hektare

Hal tersebut menciptakan ketidaksesuaian antara laju pemanasan dan adaptasi alami hutan.

Penelitian terbaru kemudian menemukan bahwa butuh waktu 100 hingga 200 tahun bagi hutan untuk benar-benar menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.

"Sekarang kita tahu bahwa butuh sekitar 100 hingga 200 tahun bagi ekosistem hutan secara keseluruhan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, sebuah periode yang kurang lebih sama dengan rentang hidup rata-rata satu pohon," ungkap David Fastovich dari Universitas Syracuse.

Para peneliti menarik kesimpulan tersebut setelah mempelajari serbuk sari purba yang terawetkan di danau selama 600.000 tahun terakhir. Ilmuwan menggunakan teknik analisis spektral pada data inti sedimen untuk melihat bagaimana hutan bereaksi terhadap perubahan iklim dalam jangka waktu yang sangat panjang, dari puluhan hingga ribuan tahun.

Analisis spektral menyediakan pendekatan statistik baru yang menyatukan cara adaptasi alami hutan berkembang dari hari ke hari hingga ribuan tahun.

Ini memudahkan para ilmuwan dari berbagai bidang untuk memahami dan berdiskusi tentang perubahan hutan, tanpa terhalang perbedaan rentang waktu penelitian mereka.

Baca juga: Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan: Cemari Perairan Hingga 10 Tahun

Peneliti menemukan, hutan butuh waktu sangat lama untuk berubah. Perubahan kecil terjadi dalam puluhan tahun, tapi untuk perubahan besar yang berhubungan dengan iklim alami, butuh waktu sampai sekitar 800 tahun.

Lebih lanjut, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa hutan akan membutuhkan lebih banyak campur tangan manusia agar tetap sehat.

Salah satu alat yang mungkin efektif adalah migrasi terbantu (assisted migration). Ini adalah praktik menanam pohon-pohon dari iklim yang lebih hangat di lokasi yang secara tradisional lebih dingin.

Tujuannya adalah untuk membantu hutan beradaptasi dan berkembang meskipun habitatnya memanas akibat perubahan iklim.

"Adaptasi hutan terhadap iklim akan menjadi proses yang lambat dan rumit yang membutuhkan strategi pengelolaan jangka panjang yang bernuansa. Dan migrasi terbantu adalah salah satu dari banyak alat untuk menjaga hutan lebih lama," catat Fastovich.

Baca juga: Susu Terancam Panas Ekstrem, Produksinya Turun 10 Persen oleh Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perancis Minta Warga Batasi Makan Daging Demi Iklim dan Kesehatan
Perancis Minta Warga Batasi Makan Daging Demi Iklim dan Kesehatan
Pemerintah
Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan
Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan
Pemerintah
Atasi Air Sadah di Sumbawa, Siswa SMAN 1 Kembangkan Alat Distilasi Sederhana
Atasi Air Sadah di Sumbawa, Siswa SMAN 1 Kembangkan Alat Distilasi Sederhana
LSM/Figur
40 Persen Perusahaan Lebih Hati-hati Komunikasikan Keberlanjutan
40 Persen Perusahaan Lebih Hati-hati Komunikasikan Keberlanjutan
LSM/Figur
Pemkab Paser Bangun 2 TPST, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Semen
Pemkab Paser Bangun 2 TPST, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Semen
Pemerintah
AOP Exhibition, Wadah Berbagi Penerapan ESG untuk Anak Perusahaan Astra Otoparts
AOP Exhibition, Wadah Berbagi Penerapan ESG untuk Anak Perusahaan Astra Otoparts
Swasta
Hemat Energi dan Air, Palembang Icon Raih Sertifikasi EDGE Bertaraf Global
Hemat Energi dan Air, Palembang Icon Raih Sertifikasi EDGE Bertaraf Global
Swasta
Kompas Gramedia Resmikan 'Waste' Station untuk Daur Ulang Sampah
Kompas Gramedia Resmikan "Waste" Station untuk Daur Ulang Sampah
Swasta
149 Daerah Berstatus Sangat Kotor dalam Adipura, Kepala Daerahnya Bakal Diperiksa
149 Daerah Berstatus Sangat Kotor dalam Adipura, Kepala Daerahnya Bakal Diperiksa
Pemerintah
Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
LSM/Figur
Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Pemerintah
Menteri LH Sebut Ada Dugaan Tindak Pidana Terkait Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel
Menteri LH Sebut Ada Dugaan Tindak Pidana Terkait Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel
Pemerintah
PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
Swasta
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
LSM/Figur
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau