KOMPAS.com — Di sejumlah negara seperti Spanyol dan Meksiko, kelelawar dimanfaatkan sebagai pengendali hama padi untuk mengurangi penggunaan pestisida dan mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Pertanyaannya, apakah pendekatan serupa bisa diterapkan di Indonesia?
Ketua Kelompok Riset Mamalia di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sigit Wiantoro, menyebutkan bahwa hal tersebut sangat mungkin dilakukan.
Meskipun sejauh ini belum ada penerapan secara spesifik untuk mengendalikan hama padi di Indonesia, potensi ke arah sana tetap terbuka.
“Sepengetahuan saya, pernah dilakukan usaha untuk memanfaatkan peran kelelawar sebagai pengendali hama di area perkebunan tebu, di kawasan Sumatra,” kata Sigit saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/7/2025).
Hingga saat ini, BRIN sendiri belum melakukan penelitian yang secara khusus fokus pada peran kelelawar dalam pengendalian hama padi. Namun demikian, sudah ada sejumlah referensi ilmiah yang menunjukkan potensi interaksi antara kelelawar dan serangga yang tergolong hama pertanian.
Baca juga: IPB Temukan Parasitoid Baru, Basmi Hama Padi dan Ubah Cara Pandang soal Alang-alang
Salah satunya adalah studi di Thailand yang menunjukkan bahwa kelelawar Mops plicatus dapat membantu mengendalikan wereng punggung putih (Sogatella furcifera), salah satu hama utama padi. Menurut Sigit, jenis kelelawar ini juga ditemukan di Indonesia, membuka peluang untuk penerapan serupa.
Selain itu, beberapa spesies kelelawar dari genus Pipistrellus dan Miniopterus, yang juga diketahui berperan sebagai pengendali hama di negara lain, dijumpai di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu metode yang digunakan di negara lain adalah penggunaan “bat box” atau rumah kelelawar yang ditempatkan di sekitar area pertanian agar kelelawar memiliki tempat tinggal dan aktif berburu hama di malam hari.
Menurut Sigit, pendekatan ini bisa disesuaikan dan diterapkan di wilayah pertanian Indonesia seperti Jawa atau Sulawesi, asalkan memperhatikan karakteristik ekologis dari spesies kelelawar lokal.
Baca juga: Atasi Fragmentasi Informasi, Pertanian Berkelanjutan Butuh Pendekatan Digital
“Tidak harus berbentuk kotak (bat box), namun bisa juga dengan bentuk rumah kelelawar seperti yang diterapkan di negara Asia Tenggara lainnya, misalnya di Vietnam,” jelasnya.
Namun karena metode ini belum pernah diterapkan secara spesifik di lahan padi Indonesia, Sigit menekankan pentingnya riset lebih lanjut sebelum bisa diadopsi secara luas. Penelitian mendalam dibutuhkan untuk memahami efektivitas, dampak ekologis, dan kesiapan lingkungan pertanian lokal.
Dalam kerangka pertanian berkelanjutan, yang menekankan pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis seperti pestisida, pendekatan berbasis ekologi seperti ini bisa menjadi alternatif yang menjanjikan.
Selain kelelawar, Sigit juga menyebut contoh lain seperti burung hantu, yang telah lama digunakan sebagai predator alami untuk mengendalikan hama padi alami di berbagai daerah di Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya