"Kita butuh lebih banyak tindakan semacam ini dan lebih banyak dukungan untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah yang banyak melakukan pembakaran gas mengatasi hambatan infrastruktur dan tata kelola," kata Banks.
"Kita juga membutuhkan koordinasi global, terutama dari importir minyak besar, untuk menciptakan insentif yang memberi penghargaan kepada produsen yang bertanggung jawab dan meningkatkan standar bagi semua orang," tambahnya.
Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa negara-negara yang berkomitmen untuk mengakhiri pembakaran gas pada 2030 berhasil mengurangi intensitas pembakaran gas mereka rata-rata 12 persen sejak 2012.
Sebaliknya, negara-negara yang tidak berkomitmen malah meningkatkan intensitas pembakaran gas mereka sebesar 25 persen. Ini menunjukkan perbedaan signifikan antara negara yang berkomitmen dan tidak berkomitmen.
“Mengurangi pembakaran gas bakar bukan tanpa tantangan. Hal ini membutuhkan investasi awal, infrastruktur yang memadai, kerangka regulasi yang kuat, dan kemauan politik yang berkelanjutan," kata Bamji.
Jika syarat-syarat seperti investasi, infrastruktur, regulasi kuat, dan kemauan politik terpenuhi, negara-negara bisa jauh mengurangi pembakaran gas. Ini juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru dan memperbaiki akses energi.
Baca juga: Ekspansi Pembangkit Listrik Gas Dikhawatirkan Bikin Energi Terbarukan Jalan di Tempat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya