KOMPAS.com - Laporan dari Center for Countering Digital Hate (CCDH) mengungkapkan platform media sosial besar memungkinkan mengambil keuntungan dari misinformasi seputar kejadian cuaca ekstrem.
Hal ini bisa membahayakan nyawa dan menghambat upaya respons darurat.
Kesimpulan tersebut didapat setelah menganalisis 100 unggahan viral di tiga platform terkemuka selama bencana alam baru-baru ini, termasuk banjir mematikan di Texas.
Laporan kemudian menyoroti bagaimana algoritma media sosial memperkuat teori konspirasi sementara mengesampingkan informasi penyelamat nyawa.
"Pengaruh teori konspirasi terkemuka selama bencana iklim menenggelamkan upaya tanggap darurat dan membahayakan nyawa," tulis laporan seperti dikutip dari Techexplore, Selasa (22/7/2025).
Menurut laporan, unggahan viral di Facebook dan Instagram Meta jarang sekali memiliki label pemeriksaan fakta atau Catatan Komunitas. Ini menunjukkan kedua platform tersebut kurang memanfaatkan sistem verifikasi yang sebenarnya bisa jadi alternatif bagi pemeriksaan fakta profesional.
Baca juga: Masyarakat Indonesia Timur Diminta Waspada Cuaca Ekstrem Imbas Bibit Siklon Tropis di Laut Timor
Selain itu, platform X hampir tidak memiliki pemeriksaan fakta atau catatan komunitas pada sebagian besar unggahannya (99 persen), sedangkan YouTube sama sekali tidak memiliki fitur tersebut.
Laporan ini juga mengungkapkan bahwa selama Januari, klaim palsu Alex Jones mengenai kebakaran hutan LA di platform X ditonton lebih banyak orang daripada total jangkauan informasi dari lembaga darurat dan media berita besar seperti Los Angeles Times.
"Penyebaran konspirasi iklim yang cepat di dunia maya bukanlah suatu kebetulan. Ini tertanam dalam model bisnis yang mengambil keuntungan dari kemarahan dan perpecahan," kata Imran Ahmed, kepala eksekutif CCDH.
Lebih lanjut, Ahmed mengungkapkan bahwa selama kebakaran hutan, penipu online menempatkan iklan di media sosial yang menyamar sebagai badan bantuan darurat federal untuk mencuri informasi pribadi para korban.
"Ketika individu yang sedang dalam kesulitan tidak bisa membedakan informasi bantuan yang asli dari penipuan online, platform media sosial ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang dialami korban," papar Ahmed lagi.
Setelah bencana alam, berita palsu seringkali membanjiri media sosial dari berbagai pihak. Ini terjadi karena banyak platform mengurangi pengawasan konten dan kurang menggunakan pemeriksa fakta manusia, yang kerap dituduh bias oleh kelompok konservatif.
Misalnya saja, selama Badai Milton yang melanda Florida tahun lalu, media sosial dibanjiri oleh klaim tak berdasar bahwa badai tersebut sengaja direkayasa oleh politisi menggunakan manipulasi cuaca.
Kebakaran hutan di LA juga menjadi sasaran teori konspirasi, yang menyebarkan klaim palsu bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh "laser pemerintah," dan klaim ini menyebar luas melalui media sosial.
Augustus Doricko, kepala eksekutif perusahaan penyemaian awan Rainmaker, mengatakan ia menerima ancaman pembunuhan secara daring setelah para ahli teori konspirasi menyalahkannya atas banjir dahsyat di Texas.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Rusak Lingkungan, Turunkan Nilai Jasa Ekosistem
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa kami telah menerima banyak ancaman sejak peristiwa banjir tersebut," kata Doricko, menyoroti konsekuensi nyata dari kebohongan semacam itu.
Studi CCDH menunjukkan bahwa pengguna media sosial yang sudah terverifikasi dan punya banyak pengikutlah justru yang paling sering menyebarkan berita palsu tentang cuaca ekstrem. Banyak dari mereka melakukan ini demi keuntungan finansial.
CCDH menyatakan bahwa 88 persen unggahan misinformasi cuaca ekstrem di X berasal dari akun terverifikasi.
Di YouTube, 73 persen unggahan semacam itu berasal dari pengguna terverifikasi, sementara di Meta, angkanya adalah 64 persen.
Sam Bright dari DeSmog, sebuah organisasi yang melaporkan kampanye misinformasi iklim, menegaskan kembali bahwa informasi palsu tentang iklim sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa.
Ia juga memperingatkan bahwa seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, penyebaran kebohongan semacam ini akan semakin membahayakan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya