Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bappenas: Potensi Filantropi Rp 600 T, Penting untuk Capai SDGs

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 20:00 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Kompas.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa program-program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dalam setahun ke depan akan sangat bergantung pada peran filantropis.

"Program Presiden Prabowo dalam waktu satu tahun ke depan berkaitan erat dengan apa yang dilakukan filantropis kita, mengatasi lapar dan kelaparan, mengatasi persoalan kesehatan, mengatasi persoalan pendidikan dasar, bahkan mengatasi persoalan yang paling mendasar, yaitu air bersih," ujar Rachmat dalam acara Budaya dan Ekosistem Filantropi untuk Dampak yang Lebih Baik; Membuka Potensi Filantropi untuk SDGs dan Agenda Iklim yang disiarkan melalui akun YouTube Perhimpunan Filantropi Indonesia, Senin (4/8/2025).

Menurut Rachmat, kontribusi filantropi sangat penting untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran. Ia menekankan bahwa berbagai permasalahan global yang kini terjadi tidak bisa lagi diselesaikan oleh negara sendirian, melainkan membutuhkan sinergi dari para filantropis.

Baca juga: Peran Penting Filantropi dalam Transformasi Ekosistem Pendidikan Indonesia

Ia mencontohkan bencana-bencana besar yang terjadi di berbagai belahan dunia, seperti kebakaran di Amerika Serikat, banjir di Jerman, hingga mencairnya es di Kutub Utara. Semua itu, kata dia, tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pemerintah.

Rachmat mengingatkan bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs) bukan sekadar tanggung jawab Indonesia atau para pelaku filantropi lokal, melainkan persoalan umat manusia secara global.

"Yah memang kita harus bersama-sama membangun Indonesia dengan cara yang baru. Cara yang oleh dunia juga diakui bersama SDGs," tuturnya.

Bappenas sendiri mencatat potensi filantropi di Indonesia bisa menembus angka lebih dari Rp 600 triliun. Potensi ini datang dari berbagai sumber, mulai dari perusahaan-perusahaan hingga lembaga-lembaga berbasis agama. Dalam konteks Islam, misalnya, terdapat kontribusi besar dari zakat dan waqaf.

Dalam kesempatan tersebut, Rachmat juga membagikan pengalaman pribadinya. Ia mengaku tumbuh dan berkembang berkat bantuan seorang filantropis. Saat masih kecil, ia sempat menempuh pendidikan di Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) yang dimiliki oleh Pendeta Siagian.

"Jadi, sebenarnya filantropis Indonesia sudah membangun dirinya dan membangun untuk Indonesia," ucapnya.

Baca juga: Peran Filantropi Bangun Ketahanan Pangan dari Desa

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau