KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru dari University of Sheffield di Inggris menemukan adanya hubungan antara peningkatan urbanisasi dengan penurunan populasi penyerbuk.
Populasi penyerbuk yang dimaksud termasuk ngengat nokturnal, lalat kembang, dan lebah.
Temuan yang mengkhawatirkan ini kemudian dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.
Dalam studinya, seperti dikutip dari Phys, Selasa (5/8/2025), tim peneliti mengambil sampel spesies penyerbuk di berbagai lingkungan perkotaan, dari pusat kota hingga pinggiran kota di Inggris.
Mereka kemudian menemukan bahwa terdapat penurunan kelimpahan dan kekayaan spesies serangga penyerbuk hingga 43 persen di lahan yang terletak di daerah yang lebih padat penduduknya.
Temuan ini pun menunjukkan bahwa berbagai macam penyerbuk terancam di lanskap perkotaan.
Baca juga: Banyak Kota Kotor, Menteri LH: Saya Pesimis Ada yang Dapat Adipura Kencana
Para peneliti memperingatkan bahwa perlu lebih banyak upaya untuk memahami dan melestarikan serangga penyerbuk yang rentan terhadap dampak hilangnya habitat akibat urbanisasi.
Menurut Emilie Ellis, penulis utama studi dari School of Biosciences University of Sheffield, tingkat ancaman terhadap banyak spesies penyerbuk masih belum banyak diketahui karena fokus global hanya pada lebah.
Padahal, ngengat dan lalat kembang sama pentingnya bagi ekosistem kita di mana hasil menunjukkan bahwa mereka mungkin sangat rentan di habitat perkotaan.
Serangga penyerbuk sangat penting bagi reproduksi hingga 90 persen spesies tumbuhan berbunga liar dan beragam jenis tanaman pertanian. Ketika urbanisasi menyebabkan semakin banyak habitat yang hilang, komunitas serangga menderita dan ekosistem menjadi tidak stabil.
Studi ini kemudian mengidentifikasi beberapa elemen kunci di ruang terbuka hijau perkotaan yang dapat menjadi solusi untuk melestarikan dan mengembangkan habitat bagi penyerbuk yang rentan terhadap perubahan lingkungan.
Studi tersebut menunjukkan bahwa penyebab berkurangnya keanekaragaman dan populasi penyerbuk bervariasi tergantung spesiesnya, namun secara utama didorong oleh berkurangnya kanopi pohon dan habitat semi-alami yang merupakan bagian dari ruang terbuka hijau di kota.
Jill Edmondson, penulis senior dari School of Biosciences University of Sheffield, menambahkan lahan pertanian perkotaan membentuk oase ruang hijau di tengah lanskap kota, dengan campuran kaya tanaman dan bunga untuk mendukung komunitas penyerbuk.
Namun, seiring dengan meningkatnya area permukaan kedap air seperti beton, aspal, dan bangunan yang membentuk lanskap kota yang kita kenal di sekitar lahan pertanian, habitat yang tersedia bagi semua kelompok penyerbuk menjadi semakin sedikit.
Baca juga: Program Agrosolution Pupuk Kaltim, Kisah Hadi Membangun Ketahanan Pangan Pertanian Organik
Hal ini bisa berdampak pada penyerbukan tanaman dan pada akhirnya hasil panen di lahan pertanian yang berada di area lebih perkotaan.
"Studi kami menunjukkan betapa pentingnya ruang semi-alami di perkotaan bagi serangga. Kita bergantung pada serangga-serangga ini, bukan hanya untuk membuat taman kita indah, tetapi juga untuk mendukung sistem pertanian di seluruh dunia," katanya.
Studi ini juga mengungkap bahwa lalat kembang dan ngengat memiliki sensitivitas lebih tinggi. Mereka memerlukan bunga sebagai sumber makanan tetapi juga kanopi pohon dan semak serta tanaman untuk makanan ulat mereka.
Banyak lalat kembang (hoverflies) juga memerlukan air yang tergenang untuk berkembang biak.
Sementara semua karakteristik habitat ini bisa jauh lebih sulit ditemukan di area yang padat bangunan.
Lebih lanjut, tim peneliti mengungkapkan temuan-temuan ini harus menjadi dasar bagi pendekatan konservasi penyerbuk yang lebih cermat.
Mereka menekankan perlunya keterlibatan yang lebih besar dari para perencana kota, pemangku kepentingan, dan pembuat kebijakan. Tujuannya adalah untuk berhasil melindungi fitur-fitur habitat yang dibutuhkan untuk mendukung dan menjaga keragaman komunitas serangga penyerbuk di wilayah perkotaan.
Baca juga: Bisakah Serangga Jadi Solusi Limbah Plastik Dunia?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya