KOMPAS.com - Studi baru yang dipublikasikan di jurnal Nature mengungkapkan reformasi besar-besaran pada sistem pangan global dapat membalikkan kerusakan lingkungan, menekan perubahan iklim, dan memulihkan keanekaragaman hayati pada pertengahan abad ini.
Sebuah tim yang terdiri dari 21 ilmuwan memperingatkan bahwa degradasi lahan sedang meningkat secara global, yang membawa konsekuensi serius bagi iklim, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut mereka mengusulkan serangkaian reformasi yang, jika diterapkan, dapat memulihkan setengah dari lahan terdegradasi di dunia pada tahun 2050.
Melansir Down to Earth, Kamis (14/8/2025) untuk pertama kalinya, penelitian ini mengukur dampak gabungan dari pengurangan limbah makanan sebesar 75 persen dan pergeseran pola makan dari produk hewani yang butuh banyak lahan ke makanan laut yang berkelanjutan.
Baca juga: Pentingnya Pengelolaan Pangan Berkelanjutan di Tengah Gejolak Global
Menurut peneliti, gabungan tersebut bisa membebaskan lahan seluas 30 juta kilometer persegi. Dan jika upaya tersebut disandingkan dengan restorasi, total lahan yang bisa dilindungi atau dipulihkan dari tahun 2020 hingga 2050 mencapai 43,8 juta kilometer persegi.
“Tingkat degradasi lahan yang terus berlangsung berkontribusi pada serangkaian tantangan global yang semakin meningkat, termasuk ketidakamanan pangan dan air, relokasi paksa dan migrasi penduduk, kerusuhan sosial, dan ketidaksetaraan ekonomi,” kata rekan penulis Barron J Orr, Kepala Ilmuwan dari UNCCD.
Lantas seperti apa rekomendasi peneliti untuk mengatasi degradasi lahan?
Rekomendasi pertama adalah memulihkan 13 juta kilometer persegi lahan, yang terdiri dari 3 juta kilometer persegi lahan pertanian dan 10 juta kilometer persegi lahan non-pertanian.
Pemulihan ini dilakukan melalui manajemen lahan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat adat, petani kecil, perempuan, dan komunitas rentan lainnya.
Subsidi pertanian harus dialihkan dari pertanian industri skala besar ke petani kecil yang berkelanjutan, dengan dukungan untuk akses teknologi, jaminan hak atas tanah, dan pasar yang adil.
Selain itu, sekitar 33 persen makanan saat ini terbuang. Dengan mengurangi limbah ini melalui berbagai kebijakan kita bisa menghemat lahan seluas sekitar 13,4 juta kilometer persegi.
Terakhir, daging merah dari produksi yang tidak berkelanjutan menggunakan lahan, air, dan pakan dalam jumlah besar, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi.
Baca juga: Investasi Pompa Air Rp 1,7 Triliun untuk Pangan: Solusi atau Ancaman Baru?
Mengganti 70 persen daging merah ini dengan ikan, moluska, dan rumput laut yang bersumber secara berkelanjutan dapat membebaskan 17,1 juta kilometer persegi lahan padang rumput dan lahan pertanian.
Bahkan, mengganti 10 persen asupan sayuran dengan produk rumput laut saja bisa melepaskan lebih dari 0,4 juta kilometer persegi lahan.
Para penulis mencatat bahwa perubahan pola makan ini terutama relevan untuk negara-negara kaya dengan tingkat konsumsi daging yang tinggi, karena di beberapa wilayah miskin, produk hewani tetap penting untuk nutrisi.
“Makalah ini menyajikan serangkaian tindakan terpadu yang berani untuk mengatasi degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim secara bersamaan, serta jalur yang jelas untuk mengimplementasikannya pada tahun 2050,” kata penulis utama Fernando T. Maestre dari King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya