KOMPAS.com – Riset mahasiswa Universitas Brawijaya saat praktik kerja lapangan (PKL) di Ecoton menemukan 88 titik timbunan sampah berserakan di sepanjang Kali Surabaya.
Plastik jadi raja sampah dengan porsi 85 persen. Sisanya, sampah organik 6 persen, bahan berbahaya dan beracun (B3) 4 persen, serta kaca 2 persen.
Sebagian besar, 76 persen dari timbunan itu masuk kategori kecil. Volume besar hanya 15 persen, dan sisanya kategori sedang 9 persen.
Driyorejo mencatat timbunan terbanyak, yaitu 27 titik dengan volume total 2.218 meter kubik. Disusul Kecamatan Taman dengan 23 titik (1.185 meter kubik), lalu Wiringinanom dengan 10 titik (918 meter kubik). Sementara Krian, Balongbendong, dan Karangpilang memiliki timbunan di bawah 10 titik, dengan volume tak lebih dari 600 meter kubik.
Baca juga: Perundingan Plastik Global Kritis, Negara Minyak Ganggu Konsensus
"Kalau dilihat dari kepadatan penduduknya, Driyorejo menduduki peringkat tertinggi dengan lebih dari 34.000 jiwa per km perseginya. Kondisi ini sejalan dengan tingginya volume sampah di daerah itu," ujar salah satu peneliti, Salwa Nurul Habiba, Jumat (15/8/2025).
Temuan yang dipaparkan dalam webinar juga menunjukkan Karangpilang mencatat jarak terdekat antara timbunan sampah dan palung sungai—artinya, sampah di sini berisiko tersapu aliran saat debit air naik.
Kali Surabaya sendiri merupakan bagian dari DAS Brantas yang melintasi tiga daerah di Jawa Timur: Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.
Baca juga: Plastik Rusak Lingkungan, tapi Subsidinya Diprediksi Naik 150 Miliar Dollar AS
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya