KOMPAS.com - Penelitian baru memperingatkan bahwa gigi hiu bisa kehilangan ketajamannya seiring dengan lautan yang menjadi lebih asam.
Para ilmuwan di Jerman mengatakan bahwa meningkatnya kadar karbon dioksida dapat mengikis senjata utama yang diandalkan oleh para predator puncak ini untuk bertahan hidup yaitu gigi mereka.
Temuan ini didapat setelah peneliti di Heinrich Heine University Düsseldorf menginkubasi gigi hiu Blacktip reef yang sudah terlepas di dalam tangki air laut dengan tingkat pH yang berbeda selama delapan minggu.
Pada tingkat pH lautan rata-rata saat ini, yaitu 8,1, gigi-gigi hiu tidak mengalami kerusakan.
Namun, ketika terpapar air yang lebih asam dengan tingkat keasaman yang diperkirakan oleh ilmuwan akan tercapai pada tahun 2300, gigi-gigi tersebut mengalami retakan permukaan, lubang, dan pelemahan struktur.
Baca juga: Masa Depan Prediksi Badai, Ilmuwan Pakai Hiu untuk Dapatkan Data Cuaca
"Gigi hiu, meskipun tersusun dari fosfat yang sangat termineralisasi, tetap rentan terhadap korosi dalam skenario pengasaman lautan di masa depan," kata penulis utama studi, Maximilian Baum.
"Gigi hiu adalah senjata mumpuni untuk memotong daging, bukan untuk menahan asam lautan. Dan hasil penelitian kami menunjukkan betapa rentannya senjata paling tajam tersebut," jelasnya seperti dikutip dari Independent, Rabu (27/8/2025).
Pengasaman laut terjadi ketika laut menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, sehingga menurunkan tingkat pH-nya.
Studi tersebut mencatat bahwa pada tahun 2300, rata-rata pH global diperkirakan akan turun dari 8.1 menjadi sekitar 7.3. Ini berarti air laut akan menjadi hampir 10 kali lebih asam daripada saat ini.
Pengasaman diketahui melemahkan karang, melarutkan cangkang moluska seperti tiram dan kerang, serta mengganggu kemampuan krustasea seperti kepiting dan lobster untuk membentuk eksoskeleton (cangkang luar).
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ikan-ikan muda kehilangan kemampuan mereka untuk mendeteksi predator di perairan yang lebih asam.
Baca juga: Populasi Hiu Paus Turun 50 Persen, Industri Kapal Didorong Lebih Ramah Satwa
Para peneliti berpendapat bahwa meskipun hiu terkenal dengan kemampuan mereka untuk melepaskan dan menumbuhkan kembali gigi, namun kerusakan mikroskopis akibat lautan yang makin asam mungkin menimbulkan risiko jangka panjang.
Kerusakan tersebut akhirnya dapat mengubah efektivitas mereka dalam berburu. Jika pengasaman mengganggu kemampuan hiu untuk menggigit secara efektif, hal itu bisa menyulitkan mereka untuk menangkap mangsa yang cepat atau sulit.
Selain itu, meskipun hiu dapat mengganti gigi, melakukannya lebih sering atau dalam kondisi yang lebih keras dapat menguras energi yang seharusnya bisa digunakan untuk pertumbuhan atau reproduksi.
"Menjaga pH lautan mendekati rata-rata saat ini, yaitu 8.1, bisa menjadi sangat penting untuk menjaga keutuhan fisik dari 'senjata' para predator (hiu)," tambah Baum.
Banyak spesies hiu sudah menurun. Menurut Daftar Merah IUCN, lebih dari sepertiga hiu dan pari terancam punah, sebagian besar disebabkan oleh penangkapan ikan berlebihan, tangkapan sampingan, dan hilangnya habitat.
Hiu adalah predator puncak dan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Dengan mengatur populasi mangsa, mereka menjaga kesehatan padang lamun dan terumbu karang, yang pada gilirannya mendukung keanekaragaman hayati.
Baca juga: Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya