KOMPAS.com - Studi dari Transport & Environment (T&E) menunjukkan bahwa hampir semua produsen mobil di Eropa berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target emisi Uni Eropa.
Hal ini terjadi setelah mereka mendapat kelonggaran tahun ini berkat lonjakan penjualan kendaraan listrik (EV).
Komisi Eropa sendiri diketahui saat ini didesak untuk memberikan kelonggaran lebih lanjut pada persyaratan iklimnya.
Tujuannya untuk membantu sektor otomotif yang sedang tertekan akibat persaingan dari China dan kebijakan tarif dari Amerika Serikat.
Baca juga: Cat Mobil Berperan dalam Pemanasan Kota, Kok Bisa?
Melansir Techxplore, Senin (8/9/2025), menurut kelompok tersebut, semua produsen mobil Eropa, kecuali Mercedes-Benz, berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target emisi Uni Eropa untuk tahun 2025-2027.
"Pabrikan mobil sengaja memberikan gambaran yang negatif karena mereka berharap target emisi bisa diperlonggar. Padahal, penjualan mobil listrik sedang meningkat pesat, dan aturan emisi inilah yang menjadi pemicunya," kata Lucien Mathieu, direktur mobil T&E.
T&E mencatat penjualan kendaraan EV diperkirakan akan mencapai 18 persen dari total mobil baru yang terjual di Eropa pada akhir tahun 2025, naik dari 13,6 persen pada tahun lalu.
Sebelumnya, Uni Eropa mengharuskan produsen mobil untuk secara bertahap mengurangi emisi karbon dari kendaraan baru yang dijual di 27 negara blok tersebut. Jika tidak, mereka akan menghadapi ancaman denda yang besar.
Baca juga: Pemerintah Incar Produksi Kendaraan Listrik Capai 2 Juta di 2025 untuk Ketahanan Energi
Awal tahun ini, Brussel memberikan kelonggaran bagi perusahaan dengan membolehkan mereka menghitung rata-rata emisi selama tiga tahun, yaitu dari tahun 2025 hingga 2027, alih-alih dihitung setiap tahunnya.
Menurut T&E, hal ini menyebabkan perlambatan pertumbuhan pasar EV karena beberapa produsen mengurangi diskon untuk kendaraan listrik.
"Perpanjangan target selama dua tahun ini memungkinkan para produsen mobil untuk melonggarkan upaya mereka, dan akan mengakibatkan penjualan dua juta lebih sedikit mobil listrik antara tahun 2025 dan 2027," kata Mathieu.
Industri otomotif mendesak agar aturan Uni Eropa direvisi lebih lanjut. Secara khusus, mereka menuntut lebih banyak kelonggaran untuk kendaraan alternatif selain EV, seperti mobil plug-in hybrid dan kendaraan bermesin pembakaran internal yang sangat efisien.
Untuk mengatasi perubahan iklim, Uni Eropa saat ini menargetkan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal pada tahun 2035.
Baca juga: Narasi Hijau Palsu: Dampak Nyata Tambang Nikel di Balik Mobil Listrik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya