Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cat Mobil Berperan dalam Pemanasan Kota, Kok Bisa?

Kompas.com, 28 Agustus 2025, 16:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal City and Environment Interactions mengungkapkan cat mobil ternyata berperan dalam pemanasan kota.

Studi tersebut menemukan bahwa kendaraan berwarna gelap memancarkan panas jauh lebih banyak daripada kendaraan terang, sehingga meningkatkan suhu udara di sekitarnya beberapa derajat.

Jika diperhitungkan dalam skala ribuan mobil yang terparkir, faktor tersembunyi ini dapat secara signifikan memperburuk efek pulau panas perkotaan (urban heat island effect), yaitu kondisi saat kota menjadi jauh lebih panas daripada area di sekitarnya.

Melansir Euro News, Rabu (27/8/2025), dalam studi yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Lisbon ini, tim peneliti mengukur suhu udara di sekitar dua mobil, satu berwarna hitam dan putih yang ditinggalkan di luar ruangan selama lebih dari lima jam,

Pada suhu 36 derajat Celsius, mobil hitam ternyata menaikkan suhu udara di sekitarnya hingga 3,8 derajat Celsius dibandingkan dengan aspal di sebelahnya. Sementara mobil putih mengalami dampak kenaikan suhu yang lebih kecil.

Baca juga: Hanya Sedikit Orang Indonesia Beli Mobil Listrik Demi Atasi Perubahan Iklim

Kenapa bisa begitu? Penjelasannya terletak pada cahaya yang dipantulkan warna-warna tersebut.

Cat putih memantulkan kembali antara 75 hingga 85 persen sinar matahari yang masuk. Sedangkan cat hitam hanya memantulkan 5 hingga 10 persen sambil menyerap sisanya. Dan tidak seperti aspal, yang tebal dan lambat panas, rangka logam tipis mobil cepat panas dan melepaskan panas langsung ke udara.

"Bayangkan ribuan mobil diparkir di seluruh kota, setiap mobilnya bertindak seperti sumber panas kecil atau penahan panas. Warna mobil itu sendiri sebenarnya bisa memengaruhi seberapa panas jalanan terasa," kata Márcia Matias, peneliti dari Universitas Lisbon.

Menurut Copernicus, program pengamatan Bumi milik Uni Eropa, pulau panas perkotaan adalah suatu area di kota yang suhunya jauh lebih hangat dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh aktivitas manusia dan infrastruktur.

Permukaan tanah yang diaspal menyerap dan menyimpan panas, sementara bangunan yang padat menghambat sirkulasi udara sehingga memerangkap kehangatan.

Sementara mobil, AC, dan aktivitas industri bisa menambah lebih banyak panas.

Para peneliti memperkirakan bahwa mengecat ulang mobil berwarna gelap menjadi warna yang lebih terang bisa melipatgandakan daya pantul panas pada jalan-jalan tertentu, dari sekitar 20 persen menjadi hampir 40 persen.

Hal ini juga dapat menurunkan suhu udara di dekat permukaan jalan pada hari-hari yang panas dan tidak berangin.

Strategi tersebut juga lebih cepat dan murah jika dibandingkan dengan proyek-proyek lain seperti menghijaukan lingkungan.

Sarah Berk, seorang peneliti iklim di University of North Carolina, menyebut pendekatan ini "baru", karena sebagian besar penelitian untuk mendinginkan kota berfokus pada atap yang reflektif atau permukaan jalan yang lebih terang.

Baca juga: Mobil Listrik Hasilkan Emisi 73 Persen Lebih Rendah, Bantu Capai Target Iklim

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau