Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Geo-engineering Tidak Cukup untuk Lindungi Kutub dari Perubahan Iklim

Kompas.com, 15 September 2025, 16:49 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Emisi karbon diosksida yang terus meningkat mengakibatkan es di Greenland dan Antarktika mulai meleleh.

Geo-engineering disebut mampu menghentikan kondisi tersebut, termasuk mencegah kenaikan permukaan laut yang signifikan.

Tetapi menurut sebuah tinjauan, ide mengenai geo-engineering tersebut tidak akan menjawab permasalahan pencairan tersebut.

Itu mengapa menurut Martin Siegert dari Universitas Exeter di Inggris mengatakan bahwa mempromosikan gagasan geo-engineering yang tidak berfungsi akan mengalihkan perhatian dari masalah utama.

"Ini justru menghambat apa yang seharusnya kita lakukan, yaitu dekarbonisasi," katanya, dikutip dari News Scientists, Selasa (9/9/2025).

Geo-engineering sendiri merupakan intervensi manusia skala besar dan sengaja pada sistem Bumi untuk melawan perubahan iklim.

Baca juga: Raksasa Antarktika Meleleh, Gunung Es Berusia 40 Tahun Akhirnya Hancur

Tujuannya adalah untuk mengurangi efek pemanasan global, baik dengan cara mengurangi jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan Bumi, atau dengan menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer.

Dalam studi ini Siegert dan rekan-rekannya mengevaluasi beberapa gagasan geo-engineering di wilayah kutub berdasarkan enam kriteria.

Enam kriteria itu adalah apakah ide itu akan berhasil, apakah bisa diterapkan dalam skala yang dibutuhkan dalam waktu yang masuk akal, apakah biayanya terjangkau, apakah negara-negara akan menyetujuinya dan dapat mempertahankan persetujuan itu selama puluhan tahun, apa saja risiko lingkungannya, dan apakah ide itu akan menciptakan harapan yang tidak realistis?

Ide geo-engineering

Lantas seperti apa ide-ide geo-engineering yang coba diterapkan untuk menyelamatkan Antarktika?

Di Antarktika, beberapa lapisan es berada di atas dasar laut dan mencair dari bagian bawah akibat air laut yang menghangat.

Salah satu ide yang diusulkan untuk menyelamatkannya adalah dengan membangun "tirai" yang sangat besar untuk menghentikan arus hangat agar tidak mencapai lapisan es tersebut dan rak-rak es terapung yang membantu melindunginya.

Steven Chown dari Monash University di Australia, yang merupakan salah satu anggota tim, mengatakan bahwa tidak jelas apakah ini akan membantu.

"Air hangat mungkin memang dialihkan dari satu rak es, tetapi pertanyaannya adalah ke mana air itu akan pergi? Bisa jadi air itu malah mengalir ke rak es di sebelahnya, menciptakan masalah yang berbeda," katanya.

Ide lain adalah menutupi permukaan Samudra Arktik dengan manik-manik kaca berongga yang sangat kecil untuk memantulkan lebih banyak panas matahari kembali ke luar angkasa dan mendinginkan wilayah tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau