Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Musim Panas Ekstrem di Eropa Sebabkan Kerugian 43 Miliar Euro

Kompas.com, 15 September 2025, 19:42 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Cuaca ekstrem yang melanda Eropa pada musim panas ini menyebabkan kerugian ekonomi jangka pendek setidaknya 43 miliar Euro.

Biaya kerugian tersebut bahkan diperkirakan akan naik menjadi 126 miliar Euro pada tahun 2029.

Menurut analisis cepat, yang belum dikaji oleh para ahli sejawat, dampak langsung dari satu musim panas yang parah akibat panas ekstrem, kekeringan, dan banjir menyebabkan kerugian setara dengan 0,26 persen dari output ekonomi Uni Eropa di tahun 2024.

Perkiraan ini dibuat berdasarkan hubungan antara data cuaca dan data ekonomi yang telah dipublikasikan dalam sebuah studi akademis bulan ini.

Kerusakan terbesar terjadi di Siprus, Yunani, Malta, dan Bulgaria. Masing-masing negara ini menderita kerugian jangka pendek di atas 1 persen dari "nilai tambah bruto" (GVA) mereka tahun 2024, sebuah ukuran yang serupa dengan PDB.

Negara-negara tersebut diikuti oleh negara-negara Mediterania lainnya, termasuk Spanyol, Italia, dan Portugal.

Baca juga: Salahkan Cuaca Ekstrem Jadi Penyebab Karhutla, Menhut Dinilai Lepas Tanggung Jawab

Akan tetapi menurut para ekonom dari Universitas Mannheim dan Bank Sentral Eropa, hasil perhitungan tersebut bersifat "konservatif" karena belum memperhitungkan kebakaran hutan dahsyat yang melanda Eropa selatan bulan lalu, serta dampak ganda dari bencana cuaca ekstrem yang terjadi pada waktu yang sama.

Sehrish Usman, seorang ekonom dari Universitas Mannheim sekaligus penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa "estimasi yang tepat waktu" dari riset ini dapat membantu para pembuat kebijakan memberikan dukungan tanpa harus bergantung pada data resmi.

"Dampak sesungguhnya dari cuaca ekstrem tidak terlihat secara instan, sebab peristiwa-peristiwa ini memengaruhi kehidupan dan mata pencarian melalui berbagai jalur yang melampaui efek awal," ujarnya dikutip dari Guardian, Senin (15/9/2025).

Para ilmuwan sendiri berpacu untuk mencari tahu sejauh mana pemanasan global telah memperburuk kondisi cuaca ekstrem yang parah pada musim panas ini.

Menurut studi, pemanasan iklim membuat cuaca yang rentan memicu kebakaran menjadi 40 kali lebih mungkin terjadi di Spanyol dan Portugal, serta 10 kali lebih mungkin di Yunani dan Turki.

Korban jiwa akibat gelombang panas "yang sangat merusak" pada bulan Juni diperkirakan meningkat tiga kali lipat di 12 kota besar, sebagai akibat dari polusi yang memanaskan bumi.

Sementara sebagian besar penelitian mengenai kerugian ekonomi akibat perubahan iklim hanya melihat dampak langsung (misalnya, aset yang rusak atau kerugian yang ditanggung asuransi).

Para penulis studi baru ini menggunakan hubungan historis antara cuaca ekstrem dan output ekonomi untuk memasukkan efek berantai atau dampak ikutan. Sebagai contoh, jam kerja para pekerja konstruksi yang terbatas saat gelombang panas atau terhambatnya perjalanan komuter setelah banjir merusak rel kereta api.

Stéphane Hallegatte, seorang kepala ekonom iklim di Bank Dunia yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan bahwa studi tersebut mengonfirmasi bahwa dampak ekonomi yang lebih luas dari cuaca ekstrem lebih besar daripada efek langsung dan berlangsung lebih lama dari yang dibayangkan orang.

Baca juga: Bukan Sekadar Jumlah, Cuaca Ekstrem Juga Tentukan Siapa yang Bermigrasi

Namun ia memperingatkan bahwa studi tersebut menggunakan indikator yang tidak sempurna" untuk mengidentifikasi cuaca ekstrem, yang kemungkinan besar akan menyebabkan perkiraan biaya yang lebih rendah dari nilai sesungguhnya.

Ia menambahkan bahwa GVA (nilai tambah bruto) tidak dapat menangkap seluruh biaya cuaca ekstrem terhadap masyarakat dan perusahaan, atau manfaat dari upaya pengurangan kerentanan.

"Terutama ketika bencana menimpa komunitas dan orang yang tak mampu, dampaknya terhadap GVA mungkin minimal, karena mereka memang tidak memiliki banyak aset. Namun, ini tidak berarti bahwa mereka tidak menderita," katanya.

Gert Bijnens, seorang ekonom di Bank Nasional Belgia yang tidak terlibat dalam studi tersebut, mengatakan bahwa gangguan rantai pasokan adalah salah satu "biaya tersembunyi" paling signifikan yang biasanya tidak terhitung.

Kendati disebut menggunakan indikator yang belum sempurna, pesan utamanya tetap jelas bahwa cuaca ekstrem sudah meninggalkan jejak ekonomi yang besar, dan efek tidak langsungnya bisa sama merusaknya dengan kehancuran langsung.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau