Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nofiyendri Sudiar
Dosen

Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) sekaligus Koordinator Penanganan Perubahan Iklim SDGs Center Universitas Negeri Padang.

Prabowo Vs Trump di PBB: Beda Sikap soal Krisis Iklim

Kompas.com, 29 September 2025, 12:11 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PIDATO Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB ke-80 menjadi salah satu sorotan penting dalam diskursus global tentang perubahan iklim.

Dalam forum yang dihadiri oleh para pemimpin dunia, Prabowo menekankan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan hari ini.

Indonesia sebagai negara kepulauan telah menghadapi dampak nyata, mulai dari kenaikan muka laut, intrusi air asin, hingga intensitas cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.

Pidato ini memperlihatkan bahwa Indonesia tidak sekadar hadir sebagai peserta, tetapi sebagai negara yang membawa pengalaman langsung dan menawarkan solusi.

Sikap ini kontras dengan pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang masih mempertahankan narasi penolakan terhadap isu perubahan iklim.

Trump menyebut kebijakan energi hijau sebagai beban ekonomi dan menegaskan keyakinannya bahwa krisis iklim adalah "penipuan terbesar" yang pernah terjadi.

Baca juga: Keracunan MBG, Pers, dan Hari Hak untuk Tahu

Retorika seperti ini jelas bertolak belakang dengan konsensus ilmiah global yang telah lama mengakui bahwa aktivitas manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil, adalah penyebab utama pemanasan global.

Dengan pandangan tersebut, Trump mengirim sinyal yang meresahkan karena melemahkan solidaritas internasional dalam menghadapi krisis bersama.

Indonesia melalui pidato Prabowo justru berusaha menegaskan arah berbeda. Ia menekankan pentingnya aksi nyata, bukan sekadar perdebatan politik.

Indonesia, menurut Prabowo, berkomitmen mempercepat transisi energi terbarukan, memperluas reforestasi, dan membangun infrastruktur adaptasi seperti tanggul laut raksasa di kawasan pesisir yang paling rentan.

Target net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat jika memungkinkan ditekankan kembali, sebagai bukti bahwa Indonesia ingin sejajar dengan negara-negara yang lebih maju dalam agenda iklim global.

Penekanan pada aksi nyata ini menunjukkan bahwa Indonesia berusaha memosisikan diri sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar korban.

Sebagai negara berkembang dengan tingkat kerentanan tinggi, Indonesia memahami betul bahwa krisis iklim mengancam ketahanan pangan, sumber daya air, dan keberlanjutan pembangunan.

Prabowo juga menyinggung pentingnya kearifan lokal dan peran masyarakat adat yang selama ini menjaga hutan dan ekosistem.

Pesan ini sekaligus memberi warna berbeda: bahwa solusi iklim tidak hanya datang dari teknologi modern, tetapi juga dari praktik tradisional yang sudah teruji selama berabad-abad.

Keterkaitan pidato Prabowo dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 13: Climate Action, sangat jelas. SDGs 13 menuntut aksi mendesak untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa komitmen Indonesia tidak hanya berkaitan dengan mitigasi, tetapi juga adaptasi.

Baca juga: Keracunan, Calo, dan Masa Depan Makan Bergizi Gratis

Indonesia siap memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana iklim sekaligus berkontribusi dalam upaya global menurunkan emisi.

Dengan demikian, posisi Indonesia sejalan dengan mandat global dan memperlihatkan upaya mengintegrasikan isu iklim ke dalam seluruh aspek pembangunan nasional.

Meski demikian, pertanyaan besar tetap muncul: sejauh mana komitmen ini dapat diwujudkan dalam kebijakan konkret?

Publik domestik maupun internasional menanti bukti bahwa janji penghentian pembangunan PLTU batu bara, akselerasi energi terbarukan, dan program reforestasi benar-benar dijalankan.

Selama ini, Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa ketergantungan pada energi fosil, konflik kepentingan lahan, serta lemahnya penegakan hukum lingkungan.

Kredibilitas Indonesia akan sangat ditentukan oleh konsistensi antara narasi diplomasi di panggung PBB dan implementasi nyata di dalam negeri.

Kontras antara pidato Trump dan Prabowo mencerminkan dua jalan yang berbeda dalam menyikapi krisis iklim.

Trump memilih menutup mata terhadap sains dan mengutamakan kepentingan jangka pendek ekonomi domestik.

Sementara itu, Prabowo mencoba menunjukkan bahwa masa depan hanya bisa diselamatkan melalui aksi kolektif dan kolaborasi global.

Narasi Indonesia lebih menekankan keadilan iklim: negara-negara maju yang selama ini menjadi penyumbang emisi terbesar harus memikul tanggung jawab lebih besar dengan memberikan dukungan finansial, teknologi, dan transfer pengetahuan kepada negara-negara berkembang.

Dalam diplomasi iklim, posisi Indonesia yang ditegaskan Prabowo bisa dibaca sebagai upaya memperkuat kepemimpinan moral di tingkat global.

Baca juga: Ekonomi Abu-abu: Mesin Tersembunyi di Balik Pertumbuhan

Indonesia, meski dengan keterbatasan sumber daya, berani menyuarakan pentingnya solidaritas dan tanggung jawab bersama.

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin menjadi penonton dalam sejarah, melainkan aktor aktif yang ikut mengarahkan jalannya transisi global menuju keberlanjutan.

Opini publik di dalam negeri juga perlu diarahkan untuk mendukung visi ini. Tanpa dukungan masyarakat, program transisi energi dan adaptasi iklim akan sulit berhasil.

Perubahan perilaku konsumsi, efisiensi energi, dan dukungan terhadap kebijakan ramah lingkungan menjadi kunci.

Dalam konteks ini, pidato Prabowo juga bisa menjadi ajakan bagi rakyat Indonesia untuk bersama-sama terlibat, bukan hanya menunggu aksi pemerintah.

Pada akhirnya, pidato Prabowo di PBB bisa dianggap sebagai titik penting dalam menegaskan posisi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Ketika sebagian negara memilih mundur atau menyangkal realitas krisis iklim, Indonesia berusaha berdiri di jalur yang selaras dengan ilmu pengetahuan dan semangat kolektif.

Tantangan terbesar tetap pada konsistensi implementasi, tetapi arah diplomasi Indonesia sudah jelas: berpihak pada masa depan bumi, sejalan dengan SDGs 13, dan menjadi bagian penting dalam perjuangan global melawan krisis iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau