Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manfaatkan Jamur, Peneliti Bikin Toilet Tanpa Air Pertama di Dunia

Kompas.com, 29 September 2025, 15:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Para peneliti dari University of British Columbia (UBC) telah meluncurkan toilet tanpa air (waterless toilet) bertenaga jamur pertama di dunia, yang diberi nama MycoToilet, di Kebun Raya UBC, Kanada.

Toilet yang masih berupa purwarupa ini menggunakan miselium (jaringan akar jamur) untuk mengubah kotoran manusia menjadi kompos yang sarat nutrisi.

Dengan desainnya yang modern dan berkelanjutan, toilet ini cocok untuk ditempatkan di taman, wilayah terpencil, atau kawasan yang tidak memiliki akses ke sistem saluran air.

"Kami ingin mengubah kegiatan rutin sehari-hari menjadi pengalaman positif yang menyadarkan kita akan keterkaitan kita dengan proses alami (siklus ekologis)," ujar Joseph Dahmen, pemimpin proyek dan associate professor di sekolah arsitektur UBC (SALA) dikutip dari Techxplore, Jumat (26/9/2025).

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Toilet Pengompos

"Toilet kompos sering memiliki citra yang buruk. Tujuan kami adalah merancang sebuah sistem yang bersih, nyaman, dan sederhana untuk digunakan," katanya lagi.

Toilet modular ini secara operasional dan desainnya juga sangat praktis karena hanya membutuhkan empat kali pemeliharaan per tahun dan memiliki akses untuk kursi roda.

Toilet ini juga sangat mementingkan kebersihan dan kenyamanan bagi penggunanya.

"Kami telah meniadakan keraguan yang sering membuat pemerintah daerah enggan menggunakan toilet kompos dan kami sudah menemukan solusinya: jadwalnya sudah pasti, sistem ventilasi terpadu, dan semuanya berfungsi dengan baik," terang Dahmen.

Struktur utamanya dibentuk dari panel kayu yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk bagian eksterior, digunakan kayu aras (cedar) yang secara alami tahan busuk dan telah melalui proses pembakaran (charring) untuk mendapatkan sifat antimikroba.

Bagian atapnya berupa atap hijau yang berfungsi mendukung tanaman dan satwa setempat, sementara kipas bertenaga rendahnya menjaga sirkulasi udara di dalam.

Lantas bagaimana cara kerja toilet ini?

Di bagian belakang, terdapat sistem yang berfungsi memisahkan limbah cair dan padat. Limbah padat kemudian diarahkan ke ruang yang dilapisi miselium. Di ruang tersebut, fungi akan menyerap bau sementara mikroba mengolahnya menjadi kompos.

"Jamur sangat efisien dalam mendekomposisi biomassa, termasuk kotoran manusia dan hewan," kata Dr. Steven Hallam, seorang profesor dari departemen mikrobiologi dan imunologi.

Baca juga: Mengenal Toilet Pengompos, Jamban Ramah Lingkungan Hemat Air

"Jamur memproduksi enzim yang berfungsi mengubah materi menjadi senyawa sederhana, sambil juga membantu perkembangbiakan komunitas mikroba yang mempercepat proses penguraian. Untuk proses ini, tidak dibutuhkan air tambahan, listrik, atau zat kimia," terangnya lagi.

Uji laboratorium menunjukkan bahwa lapisan miselium menghilangkan lebih dari 90 persen senyawa penyebab bau.

Setelah beroperasi penuh, MycoToilet diharapkan dapat menghasilkan sekitar 600 liter tanah dan 2.000 liter pupuk cair per tahun, mengubah pemeliharaan menjadi sumber daya dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

"Jika berhasil, MycoToilet dapat memberikan solusi mandiri dan hemat biaya untuk mengelola sampah di taman, kotamadya, komunitas terpencil, dan wilayah berkembang," ujar Prof. Dahmen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Limbah Residu Sulit Diolah di Indonesia, Ada Tisu Bekas hingga Puntung Rokok
Pemerintah
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Potensi Tsunami Danau Maninjau, BMKG Jelaskan Peran Segmen Kajai-Talamau
Pemerintah
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Hujan Lebat Diprediksi Terjadi Awal Tahun 2026, BMKG Rilis Daftar Daerah Terdampak
Pemerintah
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
Dari Tanah “Sakit” ke Lumbung Harapan, Ini Kisah Pengawalan Pertanian Jaga Ketahanan Pangan Desa
BUMN
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
Kebijakan Pelarangan Sawit di Jabar Disebut Tak Berdasar Bukti Ilmiah
LSM/Figur
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional 'Waste to Energy' Membengkak
Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional "Waste to Energy" Membengkak
LSM/Figur
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
Biaya Kelola Limbah Setara Beli Popok Baru, Padahal Fibernya Punya Banyak Potensi
LSM/Figur
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Inovasi Jaring Bertenaga Surya, Kurangi Penyu yang Terjaring Tak Sengaja
Pemerintah
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Kebijakan Iklim yang Sasar Gaya Hidup Bisa Kikis Kepedulian pada Lingkungan
Pemerintah
 RI Belum Maksimalkan  Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
RI Belum Maksimalkan Pemanfaatan Potensi Laut untuk Atasi Stunting
LSM/Figur
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Langkah Membumi Ecoground 2025, Gaya Hidup Sadar Lingkungan Bisa Dimulai dari Ruang Publik
Swasta
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Target Swasembada Garam 2027, KKP Tetap Impor jika Produksi Tak Cukup
Pemerintah
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
Kebijakan Mitigasi Iklim di Indonesia DInilai Pinggirkan Peran Perempuan Akar Rumput
LSM/Figur
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
Pemerintah
POPSI: Naiknya Pungutan Ekspor Sawit untuk B50 Bakal Gerus Pendapatan Petani
POPSI: Naiknya Pungutan Ekspor Sawit untuk B50 Bakal Gerus Pendapatan Petani
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau