KOMPAS.com - Para peneliti di Kyushu University telah menemukan bahwa peningkatan kadar CO2 di atmosfer dapat menyebabkan gangguan di masa depan pada komunikasi radio gelombang pendek, termasuk sistem yang digunakan untuk kendali lalu lintas udara, komunikasi maritim, dan siaran radio.
Meskipun kita tahu bahwa peningkatan kadar CO2 di atmosfer menyebabkan pemanasan global di permukaan Bumi, ada sesuatu yang berbeda terjadi di ionosfer yang terletak 100 km di atas permukaan laut. Di sana, lapisan tersebut justru mendingin.
"Akan tetapi pendinginan tersebut tidak berarti semuanya baik-baik saja. Hal ini justru menurunkan kepadatan udara di ionosfer dan mempercepat sirkulasi angin," jelas Profesor Huixin Liu dari Fakultas Sains Kyushu University, yang memimpin studi ini.
"Perubahan ini memengaruhi orbit dan masa pakai satelit serta sampah antariksa, dan juga mengganggu komunikasi radio melalui apa yang disebut ketidakteraturan plasma berskala kecil yang terlokalisasi," terangnya lagi seperti dikutip dari Phys, Senin (27/10/2025).
Baca juga: BRIN Klaim Pemanfaatan Satelit Turunkan 30,8 Persen Luas Area Karhutla
Salah satu ketidakteraturan tersebut dikenal sebagai "sporadis-E" atau "Es", sebuah fenomena di mana lapisan ion logam padat terbentuk pada ketinggian 90 hingga 120 km.
Es bersifat sporadis dan sulit diprediksi. Namun, ketika terjadi, fenomena ini dapat mengganggu komunikasi radio High Frequency (HF) dan Very High Frequency (VHF).
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa, pada tingkat CO2 yang tinggi, Es cenderung menjadi lebih kuat, muncul di ketinggian yang lebih rendah, dan bertahan lebih lama di malam hari," kata Liu.
Liu menambahkan temuan ini merupakan pertama yang menunjukkan bagaimana peningkatan CO2 memengaruhi kemunculan Es di luar angkasa.
Hal ini membuktikan bahwa dampak pemanasan global jauh lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya.
"Mengingat temuan kami, industri telekomunikasi perlu mengembangkan visi jangka panjang yang memperhitungkan dampak pemanasan global dan perubahan iklim terhadap operasional mereka di masa depan. Pemanasan global tidak hanya memengaruhi Bumi tetapi meluas jauh hingga ke luar angkasa," kata Liu lagi.
Studi dipublikasikan di Geophysical Research Letters.
Baca juga: Satgas Lingkungan Berkelanjutan Pergubi Arusutamakan Isu Iklim dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya