Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AS Ekspor Sampah Elektronik, Banjiri Asia Tenggara

Kompas.com, 29 Oktober 2025, 15:02 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Laporan dari Basel Action Network (BAN) mengungkapkan Amerika Serikat mengekspor jutaan barang elektronik bekas yang sebagian besar tujuannya adalah negara-negara berkembang di Asia Tenggara.

Tindakan ini menimbulkan krisis lingkungan karena negara-negara tersebut belum memiliki cara aman untuk memproses limbah elektronik yang mengandung zat beracun seperti timbal dan merkuri.

BAN mengatakan investigasi selama dua tahun menemukan setidaknya 10 perusahaan AS mengekspor elektronik bekas ke Asia dan Timur Tengah di antaranya Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan UEA.

BAN menyebut fenomena ekspor besar-besaran sampah elektronik ini sebagai "tsunami tersembunyi".

Baca juga: Mengapa Daur Ulang Barang Elektronik Penting Dilakukan?

"Arus sampah elektronik ini menambah margin keuntungan bagi sektor daur ulang elektronik di AS. Barang yang diekspor sebagian besar peralatan TI milik publik dan perusahaan Amerika yang sudah tak terpakai dan diekspor secara diam-diam dan diproses dalam kondisi berbahaya di Asia Tenggara," tulis laporan ini seperti dikutip dari Phys, Rabu (22/10/2025).

Pengiriman tersebut seringkali dideklarasikan di bawah kode perdagangan yang tidak sesuai dengan kode untuk sampah elektronik. Misalnya saja seperti 'bahan komoditas' atau barang daur ulang lainnya untuk menghindari deteksi oleh petugas bea cukai dan melanggar peraturan internasional tentang pergerakan limbah berbahaya.

Lebih lanjut, laporan menyebut setiap bulan sekitar 2.000 kontainer yang memuat sekitar 33.000 metrik ton elektronik bekas dikirim keluar dari pelabuhan AS menuju negara-negara berkembang.

Laporan juga memperkirakan bahwa antara Januari 2023 dan Februari 2025, 10 perusahaan tersebut mengekspor lebih dari 10.000 kontainer limbah elektronik potensial senilai lebih dari 1 miliar dolar AS.

Mirisnya, delapan dari 10 perusahaan yang teridentifikasi memiliki sertifikasi R2V3. Itu adalah sebuah standar industri yang dimaksudkan untuk memastikan elektronik didaur ulang secara aman dan bertanggung jawab, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang nilai dari sertifikasi semacam itu.

Tony R. Walker, yang meneliti perdagangan limbah global di Dalhousie University's School for Resource and Environmental Studies di Halifax, Kanada tidak terkejut melihat sampah elektronik masih bisa menghindari regulasi.

Baca juga: KLH Kembalikan 73 Kontainer Berisi Limbah Bekas Elektronik Asal AS

Menurutnya, meski beberapa perangkat dapat diperdagangkan secara legal jika masih berfungsi, sebagian besar ekspor ke negara berkembang adalah barang rusak atau usang dan salah diberi label sehingga malah ditujukan ke ke tempat pembuangan akhir yang mencemari lingkungan dan memiliki nilai pasar yang kecil.

Sampah elektronik, atau e-waste, mencakup perangkat yang dibuang seperti ponsel dan komputer yang mengandung material berharga dan juga logam beracun seperti timbal, kadmium, dan merkuri.

Volume sampah meningkat karena siklus gadget yang semakin cepat. Hal ini menimbulkan pertumbuhan tingkat sampah elektronik lima kali lebih cepat daripada kemampuan sistem daur ulang formal untuk menanganinya.

Pada tahun 2022, produksi sampah elektronik global mencapai angka tertinggi yang pernah tercatat, yaitu 62 juta metrik ton.

Namun tak berhenti sampai situ, sebab International Telecommunication Union milik Perserikatan Bangsa-Bangsa dan unit penelitiannya, UNITAR memproyeksikan jumlah sampah elektronik akan meningkat menjadi 82 juta ton pada tahun 2030.

Baca juga: Menteri LH: Jakarta Belum Serius Tangani Sampah, Limbah 8.000 Ton Masuk Bantargebang

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau