KOMPAS.com - Studi yang dilakukan oleh tim dari Universitas Peking dipimpin oleh Wang Heyuan dan Wang Kai dari Institute for Carbon Neutrality (ICN) mengungkapkan kapasitas tanah untuk menyerap karbon makin menyusut.
Penyerapan karbon darat merupakan kemampuan ekosistem darat seperti hutan dan tanah untuk menyerap dan menyimpan CO2 dari atmosfer.
Studi dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) tersebut menemukan bahwa penurunan disebabkan oleh lonjakan suhu global yang tiba-tiba dan ekstrem.
Studi berjudul "AI-tracked halving of global land carbon sink in 2024," tersebut kemudian diterbitkan dalam Science Bulletin.
Baca juga: Studi Ungkap Emisi Penerbangan Nyata Bisa Tiga Kali Lipat Lebih Tinggi dari Kalkulator Karbon
Melansir Phys, Selasa (4/11/2025) ekosistem darat memainkan peran penting dalam siklus karbon global, menyerap hampir sepertiga dari emisi karbon tahunan yang disebabkan oleh manusia.
Pelacakan perubahan yang terjadi pada ekosistem tersebut secara tepat waktu dan dapat dipertahankan menjadi semakin penting di tengah latar belakang ekstrem iklim yang semakin umum.
Dalam studi ini, model AI yang digunakan memungkinkan mendeteksi dan mendiagnosis respons siklus karbon yang mendekati waktu nyata.
Hal tersebut akan meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi siklus karbon dan berkontribusi pada pembuatan kebijakan berbasis sains.
Analisis menunjukkan bahwa serapan karbon lahan pada tahun 2024 turun hingga kurang dari setengah tingkat rata-rata selama dekade terakhir, dengan penurunan yang sangat tajam di seluruh wilayah tropis.
Baca juga: Perusahaan Bahan Bakar Fosil Tambah 2.300 Proyek Baru, Picu Krisis Karbon
Dalam ekosistem tropis, padang rumput dan sabana menunjukkan kehilangan yang secara proporsional lebih besar daripada hutan hujan tropis, menunjukkan bahwa ekosistem semi-kering di bawah kekeringan berkepanjangan tidak menunjukkan ketahanan yang lebih kuat terhadap peristiwa ekstrem.
Analisis lebih lanjut menunjukkan penurunan produktivitas vegetasi yang disebabkan oleh panas dan kekeringan sebagai pendorong utama penurunan serapan karbon tropis.
Temuan yang didukung AI ini pun menggarisbawahi bahwa sistem lahan tropis terutama padang rumput dan sabana semi-kering, kemungkinan lebih rentan daripada yang diasumsikan sebelumnya, dengan dampak global terhadap pertumbuhan CO2 atmosfer.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya