JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan bahwa rumput laut di dalam negeri banyak diminati investor asing, untuk memproduksi sedotan ramah lingkungan.
Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Mahmud, berkata pihaknya membuka peluang investasi bagi negara lain sebagai langkah hilirisasi produk kelautan tersebut.
"Buat sedotan saja mereka akan investasi di sini, karena posisinya sedotan sudah mulai tidak menggunakan plastik tetapi menggunakan seaweed dan itu mereka akan investasi rencana di Takalar, Sulawesi Selatan," ungkap Mahmud ditemui di sela Investment and Business Matching, Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2025).
Sejauh ini, Belanda menjadi investor utama rumput laut. Mahfud mengakui, tumbuhan laut itu memang berpotensi meningkatkan investasi untuk dijadikan produk non pangan.
"Rumput laut itu luar biasa, tidak hanya bisa untuk pangan tetapi juga non pangan. Nanti kami upayakan karena negara kita adalah negara rumput laut, hampir 1.000 jenis rumput laut ada di Indonesia," tutur dia.
Baca juga: Dulu Krisis, Petani Sumba Timur Kini Panen Enam Ton Bibit Rumput Laut
Berdasarkan data KKP tahun 2024, ekspor rumput laut senilai 342,16 juta dollar AS atau 5,7 persen dari total eskpor sektor perikanan dan kelautan.
Menurut Mahmud, selain rumput laut, pihaknya juga menggenjot investasi garam yang terpusat di Nusa Tenggara Timur. Hal ini sejalan dengan target swasembada garam pada 2027.
"Ternyata dengan kebijakan seperti itu banyak investor yang datang untuk bisa melakukan investasi di Indonesia," ucap Mahmud.
Hingga triwulan III, capaian investasi baru menyentuh Rp 7,45 triliun dari target 13,11 triliun pada 2025. Sehingga, dalam rangkaian acara Investment and Business Matching, KKP menargetkan mendapat investasi sebesar Rp 2 triliun dari investor dalam maupun luar negeri.
"Pada hari ini para pelaku usaha, para investor dan sudah melakukan pembicaraan awal yang kami siapkan melalui katalog sudah lebih dari 200 komunikasi antara calon investor dengan calon penerima investasi. Mereka sudah berkomunikasi dan sekarang hadir di sini untuk melanjutkan dan deal di sana berapa nilai investasi yang akan dilakukan di Indonesia," jelas dia.
Baca juga: Rumput Laut di Pantai Serap Karbon, tetapi Juga Sumber Emisi Metara
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya