KOMPAS.com - Penelitian yang dipublikasikan di Scientific Reports mengungkapkan hutan Afrika telah bertransformasi, dari penyerap karbon menjadi sumber karbon.
Temuan ilmiah yang mengkhawatirkan ini menggarisbawahi perlunya tindakan mendesak untuk menyelamatkan stabilisator iklim alami besar dunia tersebut.
Pergeseran itu, menurut peneliti telah terjadi sejak 2010.
Aktivitas manusia adalah penyebab utama masalah tersebut. Para petani membuka lebih banyak lahan untuk produksi pangan. Proyek infrastruktur dan pertambangan memperburuk hilangnya vegetasi dan pemanasan global sehingga menurunkan ketahanan ekosistem.
Melansir Guardian, Jumat (28/11/2025) para ilmuwan menemukan bahwa antara tahun 2010 dan 2017, hutan Afrika kehilangan sekitar 106 miliar kg biomassa per tahun, yang setara dengan berat sekitar 106 juta mobil.
Baca juga: Di COP30, Kemenhut Ungkap Komitmen Rehabilitasi 12,7 Juta Ha Lahan Hutan
Hutan tropis lembap di Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, dan sebagian Afrika Barat adalah yang paling terdampak.
Hilangnya hutan tersebut telah mengganggu keseimbangan sehingga benua tersebut menyumbang lebih banyak CO2 ke atmosfer.
Para penulis mengatakan hasil ini menunjukkan bahwa tindakan mendesak diperlukan untuk menghentikan hilangnya hutan atau dunia berisiko kehilangan salah satu penyangga karbon alami terpentingnya.
Brasil sendiri telah meluncurkan sebuah inisiatif, Fasilitas Hutan Tropis Selamanya (TFFF), yang bertujuan untuk memobilisasi lebih dari 100 miliar dolar AS untuk perlindungan hutan dengan membayar negara-negara agar membiarkan hutan mereka tetap utuh.
Profesor Heiko Balzter, penulis senior dan direktur Institute for Environmental Futures di Universitas Leicester, menambahkan bahwa studi menunjukkan pentingnya meningkatkan skala TFFF dengan cepat.
“Para pembuat kebijakan harus merespons dengan menerapkan perlindungan yang lebih baik untuk melindungi hutan tropis dunia,” kata Balzter.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya