Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Motor Listrik Jadi Andalan Ojol untuk Cari Rezeki

Kompas.com, 4 Desember 2025, 13:36 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Satu tahun lalu, Nazarudin beralih dari sepeda motor berbahan bakar bensin ke listrik. Pengemudi ojek online (ojol) itu menilai biaya operasional sepeda motor Kymco Agility EV miliknya hanya butuh Rp 25.000 untuk tukar baterai di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dikelola PT PLN (Persero).

Sebelumnya, biaya bahan bakar untuk sepeda motornya bisa mencapai Rp 60.000 per hari untuk pembelian bensin Pertalite.

"Untuk 24 jam Rp 25.000, bedanya jauh banget. Isi baterainya tinggal swipe atau tukar, enggak perlu antre di SPKLU," ujar Nazarudin saat ditemui di SPKLU PLN, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2025).

Dalam satu hari rata-rata ia bisa mengangkut lima penumpang dalam waktu 12 jam dan mendapatkan penghasilan Rp 200.000. Waktu yang dibutuhkan untuk penggantian baterai hanya sekitar tiga menit, berbeda dengan pengisian bensin mencapai 10 menit apabila terhambat antrean.

Baca juga: Kemenperin Setop Insentif Impor EV CBU Demi Genjot Hilirisasi Nikel

Apabila mengisi di SPKLU, Nazarudin butuh waktu pengisian ulang selama 30 menit hingga satu jam. Tetapi, kata dia, keterbatasan stasiun pengisian baterai bagi ojek online masih menjadi hambatan yang menyebabkan keterbatasan ruang gerak.

Pria berusia 43 tahun itu pun mengutamakan penumpang di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, serta Jakarta Barat untuk memudahkan penggantian baterai dan menghindari daerah penyangga sekitar seperti Depok dan Tangerang karena masih minim SPKLU.

"Kalau kami dapat ke tempat yang tujuan yang enggak ada SPKLU-nya ini, kadang-kadang ada orderan saya diamkan saja seperti wilayah dari Fatmawati sampai Cinere, Limo itu enggak ada SPKLU-nya, ada lagi di Pondok Cabe yang jauh," ucap dia.

Nazarudin berharap keberadaan SPKLU semakin meluas agar mobilitas ojek online semakin mudah. Tentunya disamping itu menurunkan potongan pendapatan dari pihak penyedia platform.

Perluas Ekosistem

Tak dimungkiri, seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia, kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung menjadi semakin mendesak. Salah satu yang paling krusial adalah ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang mampu menjawab mobilitas masyarakat.

Sebagai BUMN yang memiliki komitmen memperluas ekosistem kendaraan listrik, PT PLN akan memperluas fasilitas tersebut untuk membangun ekosistem kendaraan listrik.

Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah juga mendorong pembangunan SPKLU melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 24.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Pengembangan SPKLU 2025-2030.

Baca juga: Pemerintah Bakal Bangun SPKLU di Desa untuk Perluas Penggunaan EV

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, mengatakan, kebijakan itu mencakup perluasan di kota besar maupun kota kecil untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan kendaraan listrik. Pembangunan SPKLU turut menggandeng perusahaan swasta yang menjadi mitra PLN.

"Hingga Oktober 2025 telah tersedia 536 SPKLU roda dua di berbagai wilayah," kata Gregorius saat dikonfirmasi, Rabu (3/12/2025).

Secara keseluruhan, SPKLU yang telah tersedia sebanyak 4.377 unit yang tersebar di 2.862 lokasi di seluruh Indonesia. Lokasi SPKLU dapat ditemui melalui fitur Electric Vehicle dalam aplikasi PLN.

PLN juga berkolaborasi dengan mitra-mitranya untuk menambah jumlah Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Jumlah yang tersedia saat ini pun mencapai 1.146 unit.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau