Penulis
KOMPAS.com - Sampel udara yang dikumpulkan selama 35 tahun di Swedia memberi petunjuk baru tentang perubahan ritme alam akibat perubahan iklim.
Sampel udara lama milik militer ini ternyata menyimpan arsip DNA tersembunyi yang membuktikan, lumut di wilayah utara saat ini melepaskan spora lebih awal dibandingkan masa lalu.
Baca juga:
"Sampel-sampel tersebut ternyata merupakan arsip DNA yang tak terduga, unik, dan sangat menarik dari partikel biologis yang tersebar oleh angin," kata peneliti botani di Universitas Lund, Nils Cronberg, dilansir dari SciTechDaily, Rabu (3/12/2025).
Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di Lund University dan Umeå University di Swedia. Temuan mereka berasal dari analisis DNA yang tersimpan di filter udara kaca yang digunakan militer sejak tahun 1960-an.
Awalnya, pihak militer hanya ingin memantau radiasi dari uji senjata nuklir. Namun, filter tersebut juga menangkap DNA dari serbuk sari, spora, dan partikel biologis lain.
Peneliti Per Stenberg dari Umeå University adalah orang pertama yang melihat nilai ilmiah dari arsip genetik tersembunyi itu. Temuan ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh tim ilmuwan.
Tim peneliti memeriksa perubahan waktu pelepasan spora lumut pada 16 spesies selama periode 35 tahun. Hasilnya menunjukkan perubahan besar pada ritme musiman lumut di wilayah utara.
Rata-rata, awal pelepasan spora saat ini terjadi empat minggu lebih awal dibanding tahun 1990. Puncak pelepasan spora bahkan terjadi enam minggu lebih cepat.
Baca juga:
Sampel udara 35 tahun di Swedia ungkap spora lumut saat ini muncul lebih cepat. Temuan ini tunjukkan perubahan ritme alam akibat perubahan iklim."Perbedaannya cukup signifikan, terutama mengingat musim panas di utara begitu singkat," tutur Cronberg.
Perubahan besar ini berkaitan dengan pengaruh iklim yang tertunda. Musim gugur yang lebih hangat memberi lumut waktu lebih panjang untuk membentuk kapsul spora sebelum musim dingin tiba.
Kapsul spora yang berkembang lebih awal membuat pelepasan spora terjadi lebih cepat saat musim semi.
Hal yang mengejutkan adalah waktu pelepasan spora ternyata tidak ditentukan oleh kondisi cuaca pada tahun yang sama.
"Kami awalnya mengira bahwa pencairan salju atau suhu udara pada tahun yang sama dengan penyebaran spora akan menjadi faktor krusial, tapi kondisi iklim pada tahun sebelumnya ternyata menjadi faktor yang paling penting," kata mantan peneliti botani di Lund University yang saat ini bekerja Norwegian Institute for Nature Research, Fia Bengtsson.
Penemuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak langsung pada musim saat ini. Ritme kehidupan lumut dan organisme kecil lainnya ternyata juga menyimpan memori lingkungan satu tahun sebelumnya.
Perubahan kecil pada suhu tahun sebelumnya dapat memicu efek besar pada proses alami yang terjadi belasan atau puluhan minggu kemudian.
"Kami berharap hasil dan pengetahuan tentang bagaimana alam telah berubah sejak tahun 1970-an akan menjadi bagian dari laporan berikutnya oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)," kata Cronberg.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya