Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KLH Sebut Banjir Sumatera Jadi Bukti Dampak Perubahan Iklim

Kompas.com, 12 Desember 2025, 13:36 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebut, banjir Sumatera yang terjadi dari Selasa (25/11/2025) sampai Kamis (27/11/2025) lalu menjadi bukti dampak perubahan iklim. Siklon tropis senyar menyebabkan hujan ekstrem yang memicu banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, serta Aceh.

"Kejadian bencana hidrometeorologi di Sumatera Bagian Utara minggu yang lalu ini terlihat sebagai bukti nyata karena sebetulnya sebelumnya siklon tropis tidak pernah ada di sana," kata Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH, Ary Sudijanto di Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).

Baca juga:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan kerugian akibat bencana untuk memulihkan infrastuktur di tiga provinsi mencapai Rp 52 triliun.

Sementara itu, Center of Economic and Law Studies (Celios) menaksir biaya pemulihan kerusakan lingkungan sebesar Rp 50 triliun.

"Jadi Rp 100 triliun yang harus kita tanggung untuk mengatasi akibat dari bencana hidrometeorologi di Sumatera Bagian Utara tersebut. Kalau itu (krisis iklim) terus berlanjut, maka kemudian upaya apa pun yang kemudian kita lakukan jadi sia-sia," ucap Ary.

Perjalanan panjang menurunkan emisi

KLH menyegel tambang di Sumbar pasca banjir bandang. Dok.KLH KLH menyegel tambang di Sumbar pasca banjir bandang.

Dia menyampaikan. saat ini dunia sedang menghadapi tiga krisis atau triple planetary crisis yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

Seiring dengan memanasnya bumi, berbagai negara di dunia termasuk Indonesia menyepakati Perjanjian Paris untuk mencegah kenaikan suhu melebihi 1,5 derajat celsius.

Menurut Ary, United Nations Framework Convention on Climate Change telah melakukan penilaian terhadap Nationally Determined Contributions (NDC), komitmen negara menurunkan emisi.

Berdasarkan 86 dokumen yang dinilai, UNFCCC menyebut pada 2035 dunia baru akan berhasil menurunkan emisi 12 persen dibandingkan level tahun 2019.

"Jadi masih jauh, artinya kita harus berekspektasi bahwa kita perlu untuk punya kegiatan-kegiatan yang lebih rendah emisi termasuk di Indonesia. Peran serta dari para pelaku usaha untuk melakukan upaya penurunan emisi, saya melihat Pertamina, BRI dan sebagainya sudah punya komitmen untuk dekarbonisasi," tutur dia.

Baca juga:

KAYU GELONDONGAN: Foto udara tumpukan gelondongan kayu di permukiman di Tabiang Bandang Gadang, Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, Selasa (9/12/2025). Gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang sejak dua pekan lalu masih tersangkut di wilayah itu.  ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra KAYU GELONDONGAN: Foto udara tumpukan gelondongan kayu di permukiman di Tabiang Bandang Gadang, Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, Selasa (9/12/2025). Gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang sejak dua pekan lalu masih tersangkut di wilayah itu.

Sebelumnya, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin mengatakan, fenomena siklon tropis yang dipengaruhi perubahan iklim global meningkatkan intensitas hujan ekstrem dan angin kencang.

Hal tersebut memperbesar risiko banjir bandang, longsor, serta kerusakan infrastruktur.

Menurut dia, sejak 1980-an, peningkatan suhu muka laut dan perubahan pola sirkulasi atmosfer telah menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya siklon tropis dan badai skala menengah hingga besar.

Baca juga: Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir

“Banjir bandang dan longsor tidak hanya disebabkan oleh hujan lebat sesaat, tetapi oleh hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari. Kondisi ini menyebabkan tanah jenuh air, debit sungai meningkat, dan lereng kehilangan kestabilannya,” papar Erma.

Dia menerangkan, potensi kemunculan siklon tropis sebenarnya dapat terdeteksi beberapa hari hingga bulan sebelumnya melalui pemodelan cuaca.

BRIN telah mengembangkan berbagai perangkat prediksi cuaca dan iklim untuk menangkap sinyal awal penguatan hujan dan angin ekstrem. Erma menyoroti mitigasi masih menjadi kendala meski peringatan dini dikeluarkan.

“Peringatan dini menjadi kunci utama untuk menekan risiko korban jiwa dan kerusakan. Tantangannya adalah memastikan informasi tersebut dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat,” tuturnya.

Baca juga: 13 Perusahaan Dinilai Picu Banjir Sumatera, Walhi Desak Kemenhut Cabut Izinnya

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
LSM/Figur
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau