Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Ketika Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Kompas.com, 12 Desember 2025, 15:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI banyak wilayah Indonesia, musim hujan kini sering datang bersama kecemasan. Tanah longsor dan banjir muncul bukan hanya karena sungai yang meluap, tetapi juga dari genangan yang memenuhi jalanan dan permukiman padat. Sebaliknya, musim kemarau membawa kekeringan dan menurunnya cadangan air tanah. Dua ekstrem ini menegaskan satu kenyataan penting, yaitu ketika lingkungan rusak, dampaknya selalu kembali menghantam kehidupan kita sendiri.

Krisis air, banjir, penurunan permukaan tanah, hingga polusi adalah cermin dari tata kelola lingkungan yang belum tertata dan perilaku manusia yang belum berubah. Dalam kondisi seperti ini, pelibatan masyarakat menjadi kunci, namun partisipasi tidak muncul begitu saja. Ia memerlukan ekosistem pendukung yang kuat. Pemerintah harus menghadirkan regulasi, insentif, dan fasilitas. Hal ini perlu didukung lembaga masyarakat yang memberi pendampingan, edukasi, serta pengawasan independen.

Pemerintahan dari desa hingga provinsi perlu memastikan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau diterapkan di wilayahnya. Ketika semua unsur ini bersinergi, tindakan kecil seperti memilah sampah atau menanam pohon, dapat berkembang menjadi gerakan besar yang mengubah cara kita memperlakukan alam.

Pada prinsipnya, pelestarian lingkungan bukan soal proyek mahal, tetapi soal kebiasaan kolektif yang dijalankan secara konsisten. Bangsa kita akan jauh lebih tangguh menghadapi krisis iklim dan mitigasi bencana jika masyarakat menjadi pelaku aktif.

Dari pengelolaan lahan perkotaan, kebun kecil di pekarangan, agroforestri di desa pinggir hutan, sumur resapan di halaman rumah, hingga komunitas sungai yang menjaga daerah aliran air. Jika setiap rumah menanam satu pohon, setiap komunitas merawat satu sungai, dan setiap kampung memiliki ruang hijau bersama, maka kita bukan hanya mewariskan lingkungan yang lebih sehat, tetapi juga budaya baru yang peduli pada bumi.

Baca juga: Konstitusi Ekologis dan Kedaulatan Lingkungan

Partisipasi Masyarakat Menentukan Masa Depan Bumi

Setiap perbaikan lingkungan sesungguhnya dimulai dari rumah. Kebiasaan kecil seperti memilah sampah, mengurangi plastik, membuat kompos, tidak membuang limbah ke saluran air, hingga menanam pohon di halaman, merupakan fondasi ekologis yang sering diremehkan. Namun di banyak kampung kota di Jawa dan Sumatra, warga membuktikan bahwa gerakan kecil dapat menghasilkan perubahan nyata.

Program Bank Sampah lahir dari inisiatif warga yang ingin keluar dari lingkungan kumuh, dan dari sana muncul pembelajaran ekologis yang tumbuh dari rumah ke rumah, menguatkan budaya hidup bersih.

Contoh keberhasilan lainnya tampak di Kampung Code, Yogyakarta, yang dahulu dikenal sebagai kawasan rawan dan kumuh. Kini, berkat kedisiplinan warganya membersihkan bantaran sungai, menata tanaman, serta mengelola sampah, kawasan tersebut menjadi rujukan banyak peneliti dan pemerhati lingkungan.

Semangat serupa berkembang melalui urban farming di beberapa kota besar Indonesia. Gerakan menjaga kualitas lingkungan juga tampak dalam upaya sederhana mengelola air tanah. Warga di Semarang dan Depok, misalnya, membangun sumur resapan dan lubang biopori untuk mengurangi genangan, menambah cadangan air tanah, dan mengurangi tekanan pada sistem drainase.

Sementara itu, di banyak wilayah pedesaan, agroforestri menjadi bukti bahwa restorasi ekosistem dapat berjalan berdampingan dengan peningkatan ekonomi. Petani di Jawa Barat, Lampung, dan Sumatra Utara menerapkan pola tanam berlapis (multi strata). Dimana pada satu lahan terdapat pohon tinggi, tanaman buah, semak, dan tanaman semusim, yang tidak hanya menahan erosi dan memperkaya tanah tetapi juga memberikan hasil ekonomi sepanjang tahun.

Di sisi lain, pengawasan lingkungan tidak semata-mata bergantung pada aturan, melainkan juga pada kepedulian warga. Komunitas pemuda pembersih sampah sungai di Indonesia yang terkenal adalah Pandawara Group dari Bandung, yang menginspirasi aksi bersih-bersih sungai dan pantai, serta ada juga komunitas lain seperti Sungai Watch dari Bali yang fokus merawat sungai di berbagai daerah.

Keseluruhan contoh ini menegaskan bahwa masyarakat bukan hanya penerima dampak, tetapi aktor utama yang menentukan masa depan lingkungan hidup kita.

Baca juga: Saatnya Pendidikan Lingkungan Menjadi Mata Pelajaran Wajib

Belajar dari Negara Maju: Ketika Warga Menjadi Motor Utama

Keberhasilan banyak negara maju dalam mengelola lingkungan tidak lahir semata-mata dari kebijakan yang tertulis rapi di atas kertas, tetapi dari budaya partisipatif yang mengakar kuat di tengah warganya. Ketika masyarakat merasa memiliki lingkungan dan terlibat langsung dalam menjaganya, kebijakan tidak lagi bekerja sendirian; ia didorong oleh jutaan tindakan kecil yang kolektif.

Bagi pembuat kebijakan di Indonesia, pelajaran ini penting, dimana regulasi yang kuat hanya akan berfungsi maksimal jika dibarengi oleh budaya sosial yang mendukung.

Jepang adalah contoh paling konsisten tentang bagaimana perilaku sehari-hari membentuk kualitas lingkungan. Negara ini berada di peringkat atas indeks kebersihan global bukan karena hukuman berat semata, tetapi karena norma sosial yang kuat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OpenAI Siapkan Rencana Stargate agar Pusat Data AI Tak Bebani Warga
OpenAI Siapkan Rencana Stargate agar Pusat Data AI Tak Bebani Warga
Swasta
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
LSM/Figur
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Pemerintah
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
Swasta
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Pemerintah
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau