YIARI menjelaskan, untuk mencapai titik pelepasliaran di TNBBBR, tim harus menempuh perjalanan darat, sungai, dan hutan dengan waktu tempuh tiga hari dari pusat rehabilitasi.
Selain petugas, warga setempat ikut membantu melepaskan tiga orangutan ke alam liar.
Adapun Badul, Korwas, dan Asoka adalah orangutan yang dititipkan BKSDA Kalbar di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang.
Tujuannya, mengembalikan perilaku alami agar mereka mampu mencari pakan, menjelajah, membuat sarang, membangun kembali perilaku liar, dan menjaga jarak dari manusia.
Di alam bebas, bayi orangutan semestinya belajar keterampilan hidup dari induknya hingga usia enam hingga delapan tahun.
Namun. ketika terpisah dari induknya akibat pemeliharaan ilegal, perdagangan satwa liar, atau tekanan pada habitat, mereka kehilangan kesempatan belajar dan membutuhkan proses rehabilitasi yang panjang sebelum kembali ke habitatnya.
Baca juga: Bayi Orangutan Lahir di Taman Nasional Kalimantan Barat, Dinamai Julia
Sebelum dipindahkan ke YIARI pada pertengahan November 2017 lalu, Badul lebih dulu dititipkan di Sinka Island Park, Singkawang.
Kandangnya berdampingan dengan satwa lain seperti landak dan burung. Alhasil, Badul dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi YIARI.
Kemampuannya mencari pakan sendiri meningkat seiring berat badannya yang naik selama dirawat delapan tahun lamanya.
Sementara itu, Korwas adalah orangutan betina yang kisahnya bermula dari perdagangan ilegal satwa liar melalui media sosial.
Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) membawa Korwas ke Pusat Rehabilitasi YIARI pada pertengahan Agustus 2017 silam.
Orangutan ini mengalami infeksi jamur kulit berbentuk cincin di tubuhnya.
Usai menjalani terapi antijamur, kondisinya membaik dan Korwas mulai bergabung dengan orangutan lain di sekolah hutan.
Baca juga: Momen Haru, Orangutan Artemis dan Gieke Kembali ke Hutan Setelah Rehabilitasi
Terakhir, Asoka, orangutan jantan yang diselamatkan dari warga di Sungai Besar. Saat ditemukan, ia masih bayi dan diperkirakan berusia sekitar lima bulan ketika dipelihara.
Menurut keterangan warga, Asoka ditemukan saat mereka memancing di sungai, lalu dibawa pulang dan diberi pakan kental manis setiap hari.
Selanjutnya Asoka dirawat di YIARI pada pertengahan Juli 2015 dengan kondisi yang rentan dan membutuhkan perhatian intensif.
“Setiap individu orangutan yang berhasil kembali ke hutan adalah buah dari proses panjang, penyelamatan, rehabilitasi, dan perawatan rutin dari tim. Pelepasliaran tiga orangutan ini bukan hanya kabar baik bagi YIARI, tetapi juga bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia," jelas Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul.
Pelepasliaran menjadi momentum penting dalam penguatan transparansi dan komunikasi konservasi kepada publik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya