Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tambang Energi Terbarukan Picu Deforestasi Global, Indonesia Terdampak

Kompas.com, 23 Desember 2025, 15:33 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pertambangan untuk energi terbarukan disebut sebagai "faktor pendorong deforestasi yang intensif", berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Communications pada Minggu (21/12/2025). 

"Pertambangan merupakan salah satu faktor utama penyebab deforestasi, tapi skala sebenarnya kontribusinya terhadap kehilangan hutan alam global dan emisi karbon yang terkait masih tersembunyi akibat inventarisasi aktivitas pertambangan yang tidak lengkap," bunyi studi tersebut, dilansir dari Nature, Selasa (23/12/2025).

Baca juga: 

Studi yang dipimpin oleh Xiaoxin Zhang dari University of Hong Kong ini menunjukkan, deforestasi yang disebabkan oleh pertambangan dua sampai tiga kali lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya dari data yang ada, dengan total deforestasi 19.765 kilometer persegi dan emisi karbon sebesar 0,75 Pg COs selama periode 2001-2023.

Tidak hanya itu, lebih dari setengah atau 50,2 persen deforestasi ini terkait dengan aktivitas pertambangan yang tidak tercatat. 

Pertambangan jadi faktor utama penyebab deforestasi

Pertambangan diperlukan untuk mewujudkan energi terbarukan

Studi menunjukkan, pertambangan untuk energi terbarukan jadi pendorong deforestasi intensif, dengan Indonesia yang terdampak paling parah.Dok. Shutterstock/Matic Stojs Lomovsek Studi menunjukkan, pertambangan untuk energi terbarukan jadi pendorong deforestasi intensif, dengan Indonesia yang terdampak paling parah.

Sebagai informasi, mewujudkan dunia bebas karbon memerlukan mineral, seperti nikel, litium, dan tembaga. Mineral tersebut merupakan bahan baku untuk membuat baterai kendaraan listrik, panel surya, atau turbin angin.

Tambang-tambang untuk mineral itu sering kali berada di kawasan hutan.

Studi tersebut menunjukkan antara tahun 2001 hingga 2012, sebanyak 66,20 persen deforestasi terjadi di kawasan tambang, tempat ekstraksi mineral yang dipakai untuk produksi energi terbarukan.

Setelah tahun 2012, persentase deforestasi yang lebih tinggi terpantau pada tambang-tambang yang menyasar mineral untuk produksi energi terbarukan (74,88 persen), dibandingkan dengan ambang untuk produksi energi tak terbarukan (25,11 persen), dilansir dari Down to Earth.

Sebagai contoh, penambangan nikel yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi, kerap melibatkan perubahan penggunaan lahan skala besar, termasuk deforestasi di wilayah-wilayah yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Temuan tersebut didapat setelah para peneliti menggabungkan lapisan kehilangan hutan dan tahun kehilangan hutan global beresolusi tinggi dengan area pertambangan selama tahun 2001-2023.

Mereka kemudian membandingkan tingkat penggundulan hutan, khususnya antara tambang yang tercatat dengan yang tak tercatat.

Studi ini mencakup 236.028 lokasi pertambangan di seluruh dunia, termasuk sejumlah besar lokasi operasi pertambangan yang tidak tercatat.

Baca juga:

Indonesia tercatat paling banyak deforestasi di area tambang

Studi menunjukkan, pertambangan untuk energi terbarukan jadi pendorong deforestasi intensif, dengan Indonesia yang terdampak paling parah.Shutterstock Studi menunjukkan, pertambangan untuk energi terbarukan jadi pendorong deforestasi intensif, dengan Indonesia yang terdampak paling parah.

Studi menemukan adanya penggundulan hutan terkait aktivitas pertambangan yang signifikan pada abad ke-21.

Sepanjang abad tersebut, 175 negara di seluruh dunia mengalami deforestasi di daerah pertambangan yang menyebabkan hilangnya total 19.765 kilometer persegi deforestasi, yang berkontribusi terhadap emisi CO2 sebesar 0,75 Pg dari tahun 2001 hingga 2023.

Hutan tropis terkena dampak yang sangat serius, dengan 10.824 km persegi deforestasi akibat pertambangan yang menyumbang 0,56 Pg CO2 dalam emisi karbon hutan, menjadikannya terlihat jelas sebagai titik panas.

Sementara itu wilayah beriklim dingin dan sedang juga menghadapi deforestasi yang cukup besar, masing-masing sebesar 5.162 km persefi dan 3.470 km persefi deforestasi akibat pertambangan.

Indonesia mengalami deforestasi paling tinggi di wilayah pertambangan, yang mewakili 21,72 persen (4.292,33 km persegi) dari total deforestasi global dan menyumbang 0,22 Pg CO2 dalam emisi karbon.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AOP Exhibition, Wadah Berbagi Penerapan ESG untuk Anak Perusahaan Astra Otoparts
AOP Exhibition, Wadah Berbagi Penerapan ESG untuk Anak Perusahaan Astra Otoparts
Swasta
Hemat Energi dan Air, Palembang Icon Raih Sertifikasi EDGE Bertaraf Global
Hemat Energi dan Air, Palembang Icon Raih Sertifikasi EDGE Bertaraf Global
Swasta
Kompas Gramedia Resmikan 'Waste' Station untuk Daur Ulang Sampah
Kompas Gramedia Resmikan "Waste" Station untuk Daur Ulang Sampah
Swasta
149 Daerah Berstatus Sangat Kotor dalam Adipura, Kepala Daerahnya Bakal Diperiksa
149 Daerah Berstatus Sangat Kotor dalam Adipura, Kepala Daerahnya Bakal Diperiksa
Pemerintah
Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
LSM/Figur
Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Pemerintah
Menteri LH Sebut Ada Dugaan Tindak Pidana Terkait Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel
Menteri LH Sebut Ada Dugaan Tindak Pidana Terkait Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel
Pemerintah
PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
Swasta
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
LSM/Figur
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
LSM/Figur
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Warga Diminta Jangan Gunakan Airnya
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Warga Diminta Jangan Gunakan Airnya
Pemerintah
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Swasta
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
LSM/Figur
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau