Rusia dan Brasil menyusul di posisi berikutnya, masing-masing menyumbang 10,81 persen dan 10,58 persen dari deforestasi terkait pertambangan global, yang setara dengan 0,03 Pg CO2 dan 0,12 Pg CO2.
Studi juga menunjukkan bahwa total 7.441 kawasan hutan lindung global telah atau sedang terpengaruh oleh aktivitas pertambangan.
Baca juga:
Studi menunjukkan, pertambangan untuk energi terbarukan jadi pendorong deforestasi intensif, dengan Indonesia yang terdampak paling parah.Di antara berbagai material pertambangan, tambang emas dan batu bara mendominasi deforestasi terkait pertambangan.
Deforestasi skala besar yang terkait dengan operasi penambangan emas ilegal telah merajalela di negara-negara tropis, seperti Brasil, Peru, Ghana, dan Suriname.
Lonjakan harga emas semakin memicu kegiatan penambangan ilegal, mempercepat hilangnya hutan lindung di wilayah Amazon.
Diperkirakan bahwa 40-150 juta orang di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bergantung secara langsung atau tidak langsung pada penambangan skala kecil buatan untuk mata pencaharian mereka.
Namun, kegiatan penambangan tersebut juga berkontribusi pada polusi tanah dan air yang mengancam kesehatan masyarakat adat.
Meskipun produksi energi terbarukan dapat mengurangi perubahan iklim dan mendorong ekonomi rendah karbon, pertumbuhan permintaan logam yang tidak terkendali dapat merusak hutan secara parah dan menimbulkan tantangan lingkungan lainnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya