Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Piala Dunia 2026, Panas Ekstrem Jadi Ancaman Serius

Kompas.com, 2 Januari 2026, 11:41 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Panas ekstrem jadi perhatian serius jelang Piala Dunia 2026 yang berlangsung mulai Juni 2026, tepatnya dari Kamis (11/6/2026) sampai Minggu (19/7/2026), di Amerika Serikat. 

Beberapa bulan sebelum ajang sepak bola dunia itu dimulai, penyelenggara menghadapi tantangan berupa suhu tinggi yang melanda Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Kondisi cuaca ini berpotensi mengganggu keselamatan pemain, wasit, dan penonton.

Baca juga:

Suhu yang terus meningkat memunculkan masalah logistik yang belum sepenuhnya teratasi. Panas ekstrem bisa memengaruhi performa pemain dan pengalaman menonton. Risiko kesehatan juga meningkat, terutama bagi penonton yang tak terbiasa dengan cuaca panas.

Panas ekstrem jelang Piala Dunia 2026

SoFi Stadium siapkan kipas dan atap khusus

Tampak atas SoFi Stadium yang berlokasi di Inglewood, California, pada 22 April 2021. Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.AFP/DANIEL SLIM Tampak atas SoFi Stadium yang berlokasi di Inglewood, California, pada 22 April 2021. Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.

Di SoFi Stadium, Los Angeles, Amerika Serikat, yang akan menggelar delapan pertandingan Piala Dunia 2026, pengelola sudah menyiapkan langkah antisipasi.

"Mengingat bahwa Anda dapat menampung 70.000 orang dalam sebuah gedung, energi, kegembiraan, dan aktivitas yang menyertainya, serta suhu yang lebih tinggi, itulah saat kami ingin memastikan bahwa kami merespons dengan tepat," ucap wakil presiden operasional perusahaan pengelola stadion tersebut, Otto Benedict, dilansir dari AFP, Jumat (2/1/2026).

Sekitar 15 kipas industri berkabut (industrial misting fans) dengan tinggi lebih dari dua meter siap digunakan. Kipas ini akan dikeluarkan jika suhu melebihi sekitar 26,7 derajat celsius.

Atap stadion yang menggantung di ketinggian 45 meter disebut memberi perlindungan dari sinar matahari langsung.

Bukaan besar di sisi stadion juga memungkinkan angin laut dari Samudera Pasifik masuk. Sistem ini berfungsi sebagai pendingin alami.

Masih ada kekhawatiran akan panas ekstrem

Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.Shutterstock/Panorama Images Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.

Kendati demikian, tidak semua dari 16 stadion Piala Dunia 2026 memiliki fasilitas modern seperti SoFi Stadium. Wilayah California selatan, yang jadi lokasi stadion tersebut, juga bukan daerah dengan risiko panas tertinggi.

Sebagai informasi, jadwal pertandingan Piala Dunia 2026 berlangsung pada musim panas, berbeda dengan Piala Dunia 2022 di Qatar yang digelar pada musim dingin.

Kekhawatiran akan panas ekstrem diperkuat oleh studi di International Journal of Biometeorology pada Januari 2025.

Studi ini menyebut adanya "kekhawatiran serius" terhadap kesehatan pemain dan ofisial pertandingan akibat suhu tinggi.

Enam kota tuan rumah masuk kategori berisiko tinggi yaitu Monterrey, Miami, Kansas City, Boston, New York, dan Philadelphia.

Laporan "Pitches in Peril" dari organisasi nirlaba Football for Future mencatat bahwa pada tahun 2025, kota-kota tersebut mengalami setidaknya satu hari dengan suhu di atas 35 derajat celsius pada skala wet-bulb globe temperature (WBGT).

WBGT mengukur panas dengan mempertimbangkan kelembapan dan menjadi batas toleransi panas manusia.

Masalah panas juga muncul pada FIFA Club World Cup 2025 di Amerika Serikat. Banyak pemain dan pelatih mengeluhkan kondisi cuaca.

Sejarah mencatat, panas ekstrem juga terjadi pada Piala Dunia 1994, turnamen terakhir yang digelar di Amerika Serikat.

Baca juga:

FIFA berikan jeda saat pertandingan

Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.SHUTTERSTOCK Cuaca panas ekstrem berpotensi mengganggu Piala Dunia 2026. FIFA dan penyelenggara siapkan jeda pendinginan dan jadwal khusus.

Sebagai respons, FIFA mewajibkan jeda pendinginan otomatis pada menit ke-22 dan ke-67 di setiap pertandingan. Aturan ini berlaku tanpa melihat kondisi cuaca.

Jadwal pertandingan juga disusun dengan mempertimbangkan risiko panas. Laga siang hari umumnya ditempatkan di stadion berpendingin udara, seperti Dallas, Houston, dan Atlanta. Stadion dengan risiko lebih tinggi dijadwalkan menggelar laga malam.

Juru bicara serikat pemain FIFPro mengatakan, penyusunan jadwal ini menunjukkan upaya melindungi kesehatan dan performa pemain.

“Anda dapat dengan jelas melihat upaya untuk menyelaraskan perencanaan jadwal kompetisi dan pemilihan venue dengan pertimbangan terkait kesehatan pemain, serta performa pemain,” kata juru bicara FIFPro.

Meski begitu, FIFPro menilai masih ada pertandingan dengan risiko tinggi. Organisasi ini merekomendasikan penundaan laga jika suhu WBGT melebihi 28 derajat celsius.

Beberapa laga fase grup pada sore hari di New York, Boston, dan Philadelphia menjadi sorotan. Final Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan pukul 15.00 waktu setempat di New York juga dinilai berisiko tinggi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau