KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya, masyarakat adat, pemerintah daerah, dan kelompok sipil bisa melaporkan upaya keanekaragaman hayati mereka secara formal kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Hal ini diputuskan setelah Convention on Biological Diversity (Konvensi Keanekaragaman Hayati atau CBD) memperluas akses ke platform pelaporan globalnya.
Baca juga:
"Sekretariat CBD baru-baru ini mengaktifkan fitur baru dalam Alat Pelaporan Online (Online Reporting Tool atau ORT) yang memungkinkan pihak-pihak selain pemerintah nasional untuk menyampaikan komitmen mereka terhadap upaya global untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan keanekaragaman hayati," bunyi pengumuman dari laman resmi ORT CBD, dilansir Selasa (6/1/2026).
Berikut beberapa pihak yang bisa menggunakan alat tersebut:
Pihak-pihak tersebut bisa menyerahkan informasi mengenai aksi keanekaragaman hayati mereka di bawah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework atau KMGBF).
Baca juga:
Untuk pertama kalinya, PBB buka akses pelaporan keanekaragaman hayati bagi masyarakat adat dan kelompok sipil lewat platform CBD terbaru.Sebelumnya hanya pemerintah nasional yang diizinkan untuk mengirimkan laporan ke CBD, dilansir dari Down to Earth.
Akibatnya, gambaran global tentang tindakan keanekaragaman hayati, seperti melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem, sebagian besar dibentuk atau dipilih oleh pemerintah.
Sebagai gambaran, di India pelaporan resmi biasanya berfokus pada program yang dipimpin pemerintah, termasuk kawasan lindung, misi nasional, skema departemen lingkungan dan kehutanan, serta proyek-proyek yang didanai pemerintah pusat.
Alhasil, model pelaporan ini sering mengabaikan inisiatif konservasi yang dipimpin masyarakat dan penelitian independen.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, sekretariat CBD kini telah mengaktifkan fitur baru di ORT.
Fitur tersebut memungkinkan pihak lain non-pemerintah mengirimkan informasi tentang bagaimana aktivitas mereka mendukung Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional dan KMGBF untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030.
"Langkah ini dimaksudkan untuk mendukung pendekatan seluruh masyarakat, dengan mengakui bahwa aksi keanekaragaman hayati tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja," tulis sekretariat CBD.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya