Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi

Kompas.com, 8 Januari 2026, 21:12 WIB
Afdhalul Ikhsan,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Perkembangan bayi panda Satrio Wiratama

Belum bisa diakses wisatawan

Perkembangan Rio dinilai sangat baik. Dalam satu bulan terakhir, berat badannya meningkat sekitar 46 persen dan panjang tubuhnya bertambah hampir dua kali lipat. 

Hingga saat ini, ia sepenuhnya masih bergantung pada susu induknya dan belum memasuki fase makan tambahan, yang diperkirakan baru dimulai pada usia sembilan bulan hingga satu tahun.

Di balik pertumbuhan itu, ada ketahanan tim yang terus diuji. Dokter hewan dan perawat satwa bergantian berjaga tanpa henti.

Baca juga: Simpan Satwa Dilindungi Secara Ilegal, Pria di Karawang Terancam 15 Tahun Penjara

"Endurance tim diuji. Kami benar-benar bergantian jaga 24 jam tanpa henti,” ujar Bongot, mengenang masa-masa awal kelahiran hingga perawatan.

Saat ini, pada usia 40 hari, Rio masih sepenuhnya bergantung pada susu induknya. Mata dan telinganya belum berfungsi, dan baru akan terbuka setelah usia sekitar 100 hari. Untuk bisa diakses wisatawan pun masih harus menunggu. 

"Secara keseluruhan, saat ini kondisinya (Rio) sehat,” imbuh dokter hewan itu.

Makna di balik nama Satrio Wiratama yang diberikan Prabowo

Hasil perjalanan diplomasi panjang tiga Presiden Indonesia

Bayi panda yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, pada 27 November 2025 sekitar pukul 17.00 WIB diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto. Bayi panda jantan tersebut kemudian diberi nama panggilan Rio dan saat ini usianya memasuki hari ke-40 saat diumumkan pemerintah pada Selasa (6/1/2026).KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Bayi panda yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, pada 27 November 2025 sekitar pukul 17.00 WIB diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto. Bayi panda jantan tersebut kemudian diberi nama panggilan Rio dan saat ini usianya memasuki hari ke-40 saat diumumkan pemerintah pada Selasa (6/1/2026).

Dalam sambutannya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut usia 40 hari memiliki makna khusus dalam tradisi Indonesia.

Ia mengumumkan nama lengkap bayi panda tersebut, Satrio Wiratama, yang dimaknai sebagai kesatria pemberani dan berbudi luhur.

"Bayi panda ini lahir pada 27 November 2025 pukul 17.00 WIB. Saat lahir beratnya sekitar 100 gram. Hari ini, pada usia 40 hari, beratnya sudah 1,9 kilogram,” ujar Raja Juli. 

Ia juga menekankan bahwa kelahiran Rio merupakan hasil perjalanan panjang diplomasi antara Indonesia dan China yang melintasi tiga era kepemimpinan presiden, dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), hingga Prabowo Subianto.

"Dan akhirnya bayi panda ini lahir pada masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Artinya, ada tiga presiden yang menyaksikan perjalanan sejarah panda pertama di Indonesia. Ini sekali lagi menegaskan kuatnya hubungan diplomasi antara Indonesia dan Tiongkok," jelas Raja Juli.

Baca juga: Pergerakan Manusia Melampaui Total Migrasi Satwa Liar, Apa Dampaknya?

Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong menilai perayaan 40 hari ini sejalan dengan tradisi di negaranya, yang juga memberi perhatian khusus pada usia 100 hari kelahiran bayi.

Ia mengapresiasi kerja tanpa henti tim medis Indonesia dan China dalam merawat induk dan anak panda, Li Ao.

Bagi Taman Safari Indonesia, kelahiran Rio atau Li Ao menempatkan Indonesia sebagai negara ke-16 di dunia yang dipercaya menjalankan kerja sama cooperative breeding panda raksasa, sebuah skema konservasi global yang bertujuan menjaga keragaman genetik, bukan sekadar menambah populasi.

Untuk saat ini, Rio masih menjalani hari-harinya di balik pintu kandang, dalam pengawasan ketat dua dokter hewan dan empat perawat satwa.

Dari inkubator hingga mulai merangkak, hidupnya tumbuh perlahan, dijaga oleh ketekunan tim medis yang memilih berjaga 24 jam demi satu generasi baru panda, simbol kehidupan, sains, dan diplomasi yang bertemu dalam satu pelukan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau