KOMPAS.com - Kawasan keanekaragaman hayati daratan global termasuk di antara wilayah yang paling penting secara ekologis di Bumi.
Ke-36 kawasan ini, yang hanya menempati 2,5 persen dari permukaan daratan bumi, menampung hampir separuh dari seluruh spesies tumbuhan dan lebih dari sepertiga vertebrata darat.
Baca juga:
Sayangnya, kondisi kawasan tersebut dinilai memprihatinkan.
"Alih fungsi lahan merupakan faktor utama yang mendorong degradasi ekosistem di kawasan keanekaragaman hayati daratan, yang mengancam komitmen keberlanjutan global," tulis studi yang dipimpin oleh Prof. Chen Yaning dari Xinjiang Institute of Ecology and Geography of the Chinese Academy of Sciences yang terbit di jurnal Earth's Future, dilansir dari Wiley Online Library, Jumat (9/1/2026).
Studi mengungkap sebagian besar kawasan keanekaragaman hayati daratan dunia kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya akibat alih fungsi lahan.Sebagian besar titik (hotspots) telah kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya. Tekanan penggunaan lahan oleh manusia di kawasan tersebut juga terus meningkat.
Dengan percepatan perubahan penggunaan lahan secara global, upaya untuk mencapai target nol degradasi lahan bersih di kawasan ini menjadi semakin sulit, dilansir dari Phys.org.
Target nol degradasi lahan bersih (zero net land degradation) merupakan target internasional, yang mana kerusakan lahan di suatu tempat harus diimbangi dengan pemulihan di tempat lain sehingga secara total kualitas lahan tidak menurun.
Baca juga:
Para peneliti telah mengevaluasi alih fungsi lahan di titik-titik keanekaragaman hayati daratan global dalam kerangka kebijakan Netralitas Degradasi Lahan (LDN) PBB tahun 2015.
Untuk mengukur dampak dari warisan alih fungsi lahan masa lalu sekaligus dampak dari kebijakan terbaru, para peneliti mengembangkan Pendekatan Keseimbangan Penggunaan Lahan (LUBA).
Dengan menggunakan metode ini, para peneliti mengukur perubahan penggunaan lahan bersih di seluruh titik-titik tersebut dari tahun 1992 hingga 2022.
Peneliti menggunakan periode tahun 2000 hingga 2015 sebagai garis dasar sebelum kebijakan LDN, dan periode 2016 hingga 2022 sebagai masa pemantauan.
Studi mengungkap sebagian besar kawasan keanekaragaman hayati daratan dunia kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya akibat alih fungsi lahan.Analisis mereka mengungkapkan bahwa penggunaan lahan telah berdampak pada sekitar 9,4 persen titik-titik keanekaragaman hayati daratan global sejak tahun 1992.
Meskipun upaya restorasi dan penghijauan kembali meningkat setelah tahun 2015, upaya tersebut belum cukup untuk mengimbangi degradasi yang terus berlangsung.
Hal ini pada akhirnya mengakibatkan "utang penggunaan lahan" global sebesar 29,1 juta hektar atau sekitar 0,9 persen dari total luas area hotspot.
Kesimpulan tersebut menunjukkan bahwa secara global kerusakan lahan masih lebih besar daripada pemulihannya.
Baca juga: Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?
Utang penggunaan lahan merupakan istilah yang dipakai untuk menunjukkan, jumlah kerusakan lahan jauh lebih besar daripada jumlah pemulihan lahan. Akibatnya, alam pun menanggung "beban utang" berupa hilangnya ekosistem yang seharusnya ada.
Titik di Asia dan Amerika menyumbang sebagian besar utang penggunaan lahan global akibat deforestasi dan ekspansi pertanian yang terus berlanjut.
Sementara itu, di Afrika, jumlah lahan yang dipulihkan atau dibiarkan tumbuh kembali sedikit lebih besar daripada yang dirusak.
"Restorasi lahan yang efektif harus melampaui sekadar penghijauan permukaan lahan," ujar Prof. Chen Yaning.
"Membalikkan utang penggunaan lahan akan memerlukan kebijakan yang disesuaikan secara lokal, yang menekankan pada pemulihan fungsi ekosistem bersamaan dengan penghijauan yang terlihat, guna memastikan bahwa upaya LDN menghasilkan integritas ekologi yang efektif di titik keanekaragaman hayati," tambah dia.
Baca juga: Pulau Buru Maluku Ditetapkan Jadi Kawasan Konservasi Baru Penyu Belimbing
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya