Kenyamanan itu memberinya ruang untuk belajar dan tumbuh. Kini, ia telah menjadi Coffee Master Starbucks yang ditandai dengan celemek hitam.
Dari ciut lantaran keterbatasan komunikasi, kini ia telah bisa mengetahui asal-usul biji kopi, teknik penyeduhan, sejarah, serta seni menyajikan dan menikmati kopi.
“(Awalnya) saya pusing karena banyak sekali materi. Banyak informasi baru dan saya sempat bingung. Namun, keberadaan mentor yang menguasai bahasa isyarat serta materi tertulis yang disiapkan secara khusus membuat saya bisa mempelajarinya,” kata Asri.
Pengalaman Asri itu bukan kebetulan. Di baliknya, ada proses panjang yang dirancang dengan sengaja agar ruang kerja ini tidak hanya menerima teman Tuli, tetapi juga benar-benar memahami kebutuhan mereka.
Kiki kembali mengatakan, gagasan menghadirkan signing store muncul dari upaya menerjemahkan nilai inklusivitas dan kesetaraan yang diusung Starbucks ke dalam praktik nyata, khususnya konteks sosial di Indonesia.
Proses menuju pembukaan Starbucks Signing Store pertama di Indonesia memakan waktu sekitar 18 bulan. Selama periode itu, Starbucks Indonesia meninjau ulang pemahaman tentang komunitas yang selama ini menjadi bagian dari ekosistemnya.
“Komunitas itu luas, dan kami melihat ada kelompok yang selama ini belum banyak mendapat akses,” kata Kiki.
Dari situ, lanjutnya, Starbucks Indonesia pun bulat memutuskan untuk menyiapkan signing store, ruang inklusif yang dibuat khusus bagi komunitas teman Tuli, baik sebagai pekerja maupun bagian dari ekosistem ruang publik yang setara. Namun, ia mengaku kebingungan dalam memulainya.
“Kami benar-benar zero experience. Kami belum pernah mengerjakan proyek seperti ini sebelumnya. Saat itu (2021), baru beberapa gerai khusus untuk teman Tuli: di Malaysia, China, Jepang, dan Amerika Serikat,” tuturnya lagi. “Namun, kami punya modal kuat, yaitu niat baik, semangat, dan keberanian untuk mencoba.”
Modal kuat itu kemudian diwujudkan dalam berbagai langkah penting, yakni dimulai dari memilih store yang paling tepat, mempelajari budaya Tuli, hingga menyiapkan manajemen Starbucks yang terlibat dalam signing store untuk belajar Bisindo.
Baca juga: Bara Nusa, Koleksi Fesyen dari Organic Culture dan Teman Tuli
“Jika kami ingin membuka ruang inklusif bagi teman Tuli, kami juga harus menyetarakan diri,” ujar Kiki.
Dalam proses ini, Starbucks Indonesia tidak berjalan sendiri. Sejak awal, organisasi komunitas Tuli dilibatkan untuk memastikan bahwa pendekatan yang diambil tidak berhenti pada simbol.
Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) periode 2020–2025, Laura Lesmana Wijaya, mengatakan bahwa diskusi dengan Starbucks Indonesia tentang rencana pembukaan signing store mula-mula dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.
“Kami ingin tahu tujuannya apa, bentuk dukungannya bagaimana, dan apakah ada keberlanjutan,” cerita Laura dalam bahasa isyarat kepada Kompas.com.
Mural di dinding Starbucks Signing Store Tata Puri, Jakarta, dibuat oleh seniman teman Tuli, Indira Natalia.Dari sesi-sesi diskusi panjang, Starbucks mendapatkan banyak masukan penting. Bahkan, kata Kiki, masukan ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Masukan dari komunitas Tuli mencakup hal-hal yang tampak sederhana, tetapi penting. Penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia, desain meja bar dan penyediaan layar monitor pesanan, pengaturan meja agar teman Tuli dapat saling melihat saat berkomunikasi di gerai, hingga pelibatan seniman Tuli dalam mural di dalam toko.
Baca juga: Belajar Membatik dari Nol dengan Teman Tuli di Karawang
“Hal-hal kecil seperti itu sangat penting karena berkaitan langsung dengan budaya Tuli,” kata Laura.
Dengan Pusbisindo, Starbucks Indonesia juga bekerja sama untuk menciptakan kosakata Bahasa Isyarat Indonesia khusus yang terkait pekerjaan, termasuk menu.
Modul Starbucks yang sebagian besar menggunakan Bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, lalu disesuaikan ke dalam Bisindo. Hal ini dilakukan agar teman Tuli bisa memiliki kemampuan setara dengan barista teman dengar.
Dengan demikian, kualitas menu yang diracik teman Tuli beserta standar layanan yang diberikan kepada pelanggan sama.
“Standarnya tetap sama. Orang yang datang ke Starbucks tidak peduli siapa yang membuat Americano. Rasanya harus sama di semua gerai,” kata Kiki.
Barista Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri berbincang menggunakan bahasa isyarat Indonesia. Pendekatan yang setara itu perlahan terasa dampaknya, tidak hanya bagi barista yang bekerja di balik meja bar, tetapi juga bagi komunitas Tuli yang selama ini kerap berada di pinggir ruang publik.
Baca juga: Belajar Membuat Kopi Latte Art bersama Barista Teman Tuli Difabis
Dari segi pelamar, ratusan teman Tuli dari berbagai daerah dan latar belakang mendaftarkan diri dalam proses rekrutmen barista untuk Starbucks Signing Store Tata Puri.
Hal tersebut berkat kerja sama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Lewat Gerkatin, lowongan pekerjaan untuk teman Tuli sebagai barista bisa disebarkan secara luas.
“Ada yang nol pengalaman, ada yang berpengalaman. Bahkan ada mantan para-atlet dari Riau (melamar),” tutur Kiki.
Starbucks Signing Store Tata Puri pun menjelma ruang inklusif yang nyaman dan aman bagi teman Tuli.
Dari segi lokasi, gerai Tata Puri sangat strategis, berada di pusat Kota Jakarta, serta dapat diakses berbagai moda transportasi publik, yakni kereta listrik, MRT, LRT, dan Transjakarta.
“Ini masukan dari teman-teman Tuli dan tim dari Malaysia yang pertama kali buka signing store. Ternyata, yang dibutuhkan teman Tuli bukan gerai besar di mal besar, melainkan gerai yang mudah diakses lewat transportasi publik,” ungkap Kiki.
Baca juga: Jikustik Rilis Aku Tak Mau Sendiri, Selipkan Kampanye untuk Komunitas Teman Tuli
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya