Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
INKLUSIVITAS

Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi

Kompas.com, 11 Januari 2026, 09:03 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Kenyamanan itu memberinya ruang untuk belajar dan tumbuh. Kini, ia telah menjadi Coffee Master Starbucks yang ditandai dengan celemek hitam. 

Dari ciut lantaran keterbatasan komunikasi, kini ia telah bisa mengetahui asal-usul biji kopi, teknik penyeduhan, sejarah, serta seni menyajikan dan menikmati kopi.

“(Awalnya) saya pusing karena banyak sekali materi. Banyak informasi baru dan saya sempat bingung. Namun, keberadaan mentor yang menguasai bahasa isyarat serta materi tertulis yang disiapkan secara khusus membuat saya bisa mempelajarinya,” kata Asri.

Proses panjang

Pengalaman Asri itu bukan kebetulan. Di baliknya, ada proses panjang yang dirancang dengan sengaja agar ruang kerja ini tidak hanya menerima teman Tuli, tetapi juga benar-benar memahami kebutuhan mereka.

Baca juga: Berikan Dampak Nyata, PT Sari Coffee Indonesia dan Starbucks Foundation Berdayakan Komunitas di Indonesia

Kiki kembali mengatakan, gagasan menghadirkan signing store muncul dari upaya menerjemahkan nilai inklusivitas dan kesetaraan yang diusung Starbucks ke dalam praktik nyata, khususnya konteks sosial di Indonesia.

Proses menuju pembukaan Starbucks Signing Store pertama di Indonesia memakan waktu sekitar 18 bulan. Selama periode itu, Starbucks Indonesia meninjau ulang pemahaman tentang komunitas yang selama ini menjadi bagian dari ekosistemnya.

“Komunitas itu luas, dan kami melihat ada kelompok yang selama ini belum banyak mendapat akses,” kata Kiki.

Dari situ, lanjutnya, Starbucks Indonesia pun bulat memutuskan untuk menyiapkan signing store, ruang inklusif yang dibuat khusus bagi komunitas teman Tuli, baik sebagai pekerja maupun bagian dari ekosistem ruang publik yang setara. Namun, ia mengaku kebingungan dalam memulainya. 

“Kami benar-benar zero experience. Kami belum pernah mengerjakan proyek seperti ini sebelumnya. Saat itu (2021), baru beberapa gerai  khusus untuk teman Tuli: di Malaysia, China, Jepang, dan Amerika Serikat,” tuturnya lagi. “Namun, kami punya modal kuat, yaitu niat baik, semangat, dan keberanian untuk mencoba.”

Modal kuat itu kemudian diwujudkan dalam berbagai langkah penting, yakni dimulai dari memilih store yang paling tepat, mempelajari budaya Tuli, hingga menyiapkan manajemen Starbucks yang terlibat dalam signing store untuk belajar Bisindo. 

Baca juga: Bara Nusa, Koleksi Fesyen dari Organic Culture dan Teman Tuli

“Jika kami ingin membuka ruang inklusif bagi teman Tuli, kami juga harus menyetarakan diri,” ujar Kiki.

Dalam proses ini, Starbucks Indonesia tidak berjalan sendiri. Sejak awal, organisasi komunitas Tuli dilibatkan untuk memastikan bahwa pendekatan yang diambil tidak berhenti pada simbol.

Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) periode 2020–2025, Laura Lesmana Wijaya, mengatakan bahwa diskusi dengan Starbucks Indonesia tentang rencana pembukaan signing store mula-mula dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.

“Kami ingin tahu tujuannya apa, bentuk dukungannya bagaimana, dan apakah ada keberlanjutan,” cerita Laura dalam bahasa isyarat kepada Kompas.com.

Mural di dinding  Starbucks Signing Store Tata Puri, Jakarta, dibuat oleh seniman teman Tuli, Indira Natalia.KOMPAS.com/AGUNG DWI E Mural di dinding Starbucks Signing Store Tata Puri, Jakarta, dibuat oleh seniman teman Tuli, Indira Natalia.

Dari sesi-sesi diskusi panjang, Starbucks mendapatkan banyak masukan penting. Bahkan, kata Kiki, masukan ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Masukan dari komunitas Tuli mencakup hal-hal yang tampak sederhana, tetapi penting. Penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia, desain meja bar dan penyediaan layar monitor pesanan, pengaturan meja agar teman Tuli dapat saling melihat saat berkomunikasi di gerai, hingga pelibatan seniman Tuli dalam mural di dalam toko.

Baca juga: Belajar Membatik dari Nol dengan Teman Tuli di Karawang

“Hal-hal kecil seperti itu sangat penting karena berkaitan langsung dengan budaya Tuli,” kata Laura.

Dengan Pusbisindo, Starbucks Indonesia juga bekerja sama untuk menciptakan kosakata Bahasa Isyarat Indonesia khusus yang terkait pekerjaan, termasuk menu. 

Modul Starbucks yang sebagian besar menggunakan Bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, lalu disesuaikan ke dalam Bisindo. Hal ini dilakukan agar teman Tuli bisa memiliki kemampuan setara dengan barista teman dengar.

Dengan demikian, kualitas menu yang diracik teman Tuli beserta standar layanan yang diberikan kepada pelanggan sama.

“Standarnya tetap sama. Orang yang datang ke Starbucks tidak peduli siapa yang membuat Americano. Rasanya harus sama di semua gerai,” kata Kiki.

Barista Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri berbincang menggunakan bahasa isyarat Indonesia. KOMPAS.com/AGUNG DWI E Barista Tuli di Starbucks Signing Store Tata Puri berbincang menggunakan bahasa isyarat Indonesia.

Ruang inklusif nyaman

Pendekatan yang setara itu perlahan terasa dampaknya, tidak hanya bagi barista yang bekerja di balik meja bar, tetapi juga bagi komunitas Tuli yang selama ini kerap berada di pinggir ruang publik.

Baca juga: Belajar Membuat Kopi Latte Art bersama Barista Teman Tuli Difabis

Dari segi pelamar, ratusan teman Tuli dari berbagai daerah dan latar belakang mendaftarkan diri dalam proses rekrutmen barista untuk Starbucks Signing Store Tata Puri.

Hal tersebut berkat kerja sama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Lewat Gerkatin, lowongan pekerjaan untuk teman Tuli sebagai barista bisa disebarkan secara luas.

“Ada yang nol pengalaman, ada yang berpengalaman. Bahkan ada mantan para-atlet dari Riau (melamar),” tutur Kiki.

Starbucks Signing Store Tata Puri pun menjelma ruang inklusif yang nyaman dan aman bagi teman Tuli. 

Dari segi lokasi, gerai Tata Puri sangat strategis, berada di pusat Kota Jakarta, serta dapat diakses berbagai moda transportasi publik, yakni kereta listrik, MRT, LRT, dan Transjakarta.

“Ini masukan dari teman-teman Tuli dan tim dari Malaysia yang pertama kali buka signing store. Ternyata, yang dibutuhkan teman Tuli bukan gerai besar di mal besar, melainkan gerai yang mudah diakses lewat transportasi publik,” ungkap Kiki.

Baca juga: Jikustik Rilis Aku Tak Mau Sendiri, Selipkan Kampanye untuk Komunitas Teman Tuli

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau